OPINI : Stay Hungry, Stay Foolish: Indonesia Jangan Cepat Kenyang Menuju Ekonomi 2045

Lukita Dinarsyah Tuwo

Oleh : Lukita Dinarsyah Tuwo

Indonesia sebenarnya tidak pernah kekurangan orang pintar. Gelar akademiknya panjang, seminar penuh, rapat berlapis, presentasi makin berwarna, dan hampir setiap persoalan sudah mempunyai roadmap. Kalau satu roadmap belum berjalan, kita biasanya cukup tangguh untuk membuat roadmap baru guna mempercepat implementasi roadmap yang lama.

Kita memang sangat serius mempersiapkan perjalanan. Kadang-kadang yang terlupa hanya satu: berangkat.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  PWI Kepri Kecam Keras Tindakan Premanisme Oknum Sekretaris DPRD Lingga

Dalam situasi seperti itu, empat kata sederhana yang pernah disampaikan Steve Jobs terasa semakin relevan: Stay Hungry. Stay Foolish. Tetap lapar. Tetap cukup “bodoh”.

Tentu bukan lapar karena belum makan siang setelah rapat tiga jam. Dan bukan pula bodoh karena tidak membaca bahan rapat yang datang terlambat. Hungry adalah rasa belum selesai. Foolish adalah keberanian mencoba sesuatu yang belum tentu berhasil.

Bagi Indonesia yang ingin menjadi negara maju pada 2045, dua sikap ini mungkin lebih penting daripada yang kita bayangkan.

Empat Kata yang Bahkan Bukan Milik Steve Jobs
Kalimat Stay Hungry. Stay Foolish. menjadi sangat terkenal setelah Steve Jobs menggunakannya untuk menutup pidato wisuda Stanford University pada 12 Juni 2005.
Namun Jobs tidak menciptakannya.

BACA JUGA:  Batam Bermekaran, Pesona Tabebuya Mengubah Sudut Kota Menjadi 'Sakura'-nya Kepri 

Ungkapan itu berasal dari lingkungan Whole Earth Catalog, publikasi yang dirintis Stewart Brand pada akhir 1960-an. Isinya campuran yang aneh tetapi menarik: teknologi, buku, lingkungan, alat kerja, pendidikan mandiri, desain, gagasan hidup alternatif, dan berbagai pengetahuan yang memungkinkan seseorang belajar serta menciptakan sesuatu sendiri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *