OPINI : Stay Hungry, Stay Foolish: Indonesia Jangan Cepat Kenyang Menuju Ekonomi 2045

Lukita Dinarsyah Tuwo

Jobs menyebut Whole Earth Catalog sebagai salah satu “kitab” generasinya. Ia bahkan menggambarkannya sebagai semacam Google dalam bentuk buku, jauh sebelum Google lahir.

Pada Whole Earth Epilog tahun 1974 terdapat foto sebuah jalan pedesaan. Jalan kosong, seperti mengundang seseorang untuk pergi mencari sesuatu yang belum diketahuinya.

Di sana tercetak pesan: Stay Hungry. Stay Foolish. Pesan itu rupanya tinggal lama di kepala Jobs. Tiga puluh tahun kemudian ia membawanya ke Stanford.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pemprov Tandatangani UMP Kepri Senilai Rp 3.623.654

Tiga Cerita Tentang Hidup yang Tidak Berjalan Menurut PowerPoint

Pidato Jobs menarik justru karena ia tidak menawarkan tujuh strategi, dua belas indikator, atau matriks risiko.
Ia hanya bercerita tiga hal. Pertama, connecting the dots.

Jobs keluar dari Reed College. Tetapi karena rasa ingin tahu, ia mengikuti kelas kaligrafi. Pada saat itu tidak ada alasan ekonomi yang jelas mengapa seseorang yang tertarik komputer perlu belajar keindahan huruf.

Tidak ada diagram yang menunjukkan: Kaligrafi → Macintosh → revolusi tipografi komputer. Tetapi bertahun-tahun kemudian, pengalaman itu menjadi bagian penting dalam desain Macintosh. Jobs mengatakan bahwa titik-titik kehidupan sering tidak dapat dihubungkan ketika kita melihat ke depan. Kita baru mengerti hubungannya ketika melihat ke belakang.

BACA JUGA:  Indonesia Peringkat 7 Adopsi Kripto Global, OJK Perkuat Edukasi Publik

Cerita kedua adalah love and loss. Jobs pernah dipecat dari Apple—perusahaan yang ia dirikan sendiri. Dalam bahasa korporasi, itu mungkin disebut career disruption. Dalam bahasa sehari-hari: sakit sekali. Tetapi sesudahnya Jobs membangun NeXT dan Pixar. NeXT kemudian dibeli Apple, dan Jobs akhirnya kembali ke perusahaan yang pernah mengeluarkannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *