Semua itu merupakan agenda transformasi. Masalahnya, transformasi membutuhkan keberanian mencoba. Dan di sinilah paradoks kita muncul.
Di banyak organisasi, kesalahan lebih mudah terlihat daripada keberanian.
Akibatnya perilaku paling rasional bagi individu sering kali adalah:
jangan terlalu berbeda, jangan mengambil risiko, jangan membuat keputusan yang bisa dipersoalkan.
Lebih aman mengikuti prosedur.
Lebih aman menunggu disposisi.
Lebih aman membuat rapat tambahan.
Lebih aman menyusun laporan bahwa masalah sedang ditangani daripada mencoba cara baru yang mungkin gagal.
Akhirnya lahirlah sebuah keadaan yang agak unik: semua orang sibuk, tetapi sistem bergerak perlahan.
Ini tidak hanya terjadi dalam birokrasi. Pendidikan kita masih terlalu sering mengajarkan anak mencari jawaban yang benar, bukan membangun pertanyaan yang baik. Padahal di zaman AI, jawaban semakin murah. Yang semakin mahal adalah kemampuan merumuskan masalah, menghubungkan berbagai pengetahuan, membedakan informasi penting dari kebisingan, bekerja sama, berimajinasi, dan berani menciptakan sesuatu yang belum ada.
Kita perlu anak bangsa yang tidak sekadar mampu menjawab: “Apa jawabannya?” Tetapi juga bertanya: “Mengapa pertanyaannya harus seperti itu?”
Dari Hilirisasi ke Kompleksitas Ekonomi
Semangat Stay Hungry juga relevan bagi transformasi ekonomi. Indonesia sudah memulai hilirisasi sumber daya alam. Itu penting. Tetapi jangan cepat kenyang hanya karena berhasil memindahkan ekspor dari bahan mentah menuju produk olahan awal.










