OPINI : Stay Hungry, Stay Foolish: Indonesia Jangan Cepat Kenyang Menuju Ekonomi 2045

Lukita Dinarsyah Tuwo

Nikel tidak boleh berhenti pada smelter. Bauksit tidak boleh berhenti pada alumina. Indonesia harus terus lapar menuju material maju, komponen, teknologi produksi, desain, engineering, riset, merek, dan jaringan industri yang semakin kompleks.

Di situlah ekonomi naik kelas. Stay Hungry berarti selalu bertanya:
“Setelah ini apa?”

Dan Stay Foolish berarti berani memasuki industri atau teknologi yang hari ini mungkin dianggap terlalu sulit. Karena negara maju bukan negara yang hanya mengerjakan sesuatu yang sudah pasti bisa dilakukannya. Negara maju membangun kemampuan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya belum bisa dilakukannya.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  500 Mahasiswa Antusias Ikuti Program Telkom Digistar Class 2024

Lima Ruang untuk Tetap Lapar dan Berani

Ada lima perubahan yang menurut saya penting.
Pertama, ubah perencanaan menjadi proses belajar. Rencana tetap diperlukan. Tetapi rencana seharusnya bukan kitab yang kebal terhadap kenyataan. Kebijakan harus dapat diuji, dievaluasi, diperbaiki, bahkan dihentikan apabila tidak bekerja.

Kedua, perbanyak ruang eksperimen. Tidak semua kebijakan baru harus langsung diterapkan nasional. Mulai kecil. Uji. Ukur. Pelajari. Perbaiki. Kemudian perluas. Kita perlu lebih banyak policy sandbox, proyek percontohan, dan laboratorium inovasi di pusat maupun daerah.

Ketiga, bedakan kegagalan karena kelalaian dengan kegagalan karena inovasi. Kelalaian harus dipertanggungjawabkan. Tetapi kegagalan dari eksperimen yang transparan, terukur, dan bertanggung jawab harus diperlakukan sebagai biaya belajar. Kalau setiap kegagalan dihukum sama, jangan heran kalau semua orang akhirnya memilih tidak mencoba apa-apa.

BACA JUGA:  BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

Keempat, ubah ukuran keberhasilan. Jangan berhenti pada pertanyaan: “Berapa persen anggaran terserap?” Tanyakan juga: “Apa yang berubah?” Serapan 100 persen memang terlihat indah di dashboard. Sayangnya masyarakat tidak makan dashboard.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *