Jeffrey Winters’ The Blind Spot dalam Konteks Indonesia: Apa Pelajarannya bagi Indonesia Emas 2045? (1-3)

Negara yang kuat bukan negara yang mampu memungut pajak dari pihak yang mudah dipungut. Negara yang kuat adalah negara yang mampu menerapkan aturan yang sama terhadap pihak yang lemah maupun pihak yang sangat kuat.

Dari Ekonomi Ekstraktif Menuju Ekonomi Pencipta Nilai
Ada dimensi lain dari pemikiran Winters yang sangat penting bagi agenda transformasi ekonomi Indonesia.

Dalam wawancara mengenai Indonesia, ia mengkritik kecenderungan kekayaan besar Indonesia yang tumbuh di sekitar kegiatan berbasis ekstraksi sumber daya. Menurut Winters, pola tersebut dapat menghasilkan politik bagi-bagi: kompetisi mengenai siapa mendapatkan bagian terbesar dari kekayaan yang telah tersedia, bukan bagaimana memperbesar kapasitas produktif ekonomi. Ia membandingkannya dengan ekonomi berbasis manufaktur dan penciptaan nilai yang dapat memperbesar “kue” ekonomi melalui pasar global.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Kunjungi Masyarakat Kijang, Muhammad Rudi Sampaikan Program Prioritas Apabila Terpilih Jadi Gubernur Kepri

Kritik itu tentu dapat diperdebatkan. Indonesia sekarang juga sedang melakukan industrialisasi dan hilirisasi. Namun pertanyaan Winters tetap relevan: apakah transformasi tersebut benar-benar menciptakan kemampuan produktif baru atau hanya memindahkan titik pengambilan rente dari tambang ke tahap pengolahan berikutnya?

Indonesia Emas membutuhkan hilirisasi yang berkembang menjadi industrialisasi, inovasi dan peningkatan kompleksitas ekonomi. Mineral harus melahirkan material maju, komponen, mesin, teknologi, riset, pemasok domestik dan perusahaan Indonesia yang mampu bersaing di pasar dunia.

Dengan demikian muncul kelompok pengusaha besar yang kepentingannya justru selaras dengan peningkatan produktivitas nasional, kualitas SDM, inovasi, infrastruktur, kepastian hukum dan keterbukaan pasar.

BACA JUGA:  Rekaman Bagi-bagi Duit Bongkar Dana APBD Lingga Digunakan untuk Memenangkan Caleg

Kita tidak perlu memusuhi penciptaan kekayaan. Indonesia justru membutuhkan lebih banyak entrepreneur, perusahaan nasional besar dan bahkan perusahaan kelas dunia. Yang perlu dicegah adalah terbentuknya rent-seeking capitalism, ketika keuntungan lebih mudah diperoleh melalui kedekatan dengan kekuasaan daripada melalui produktivitas dan inovasi.

Indonesia Emas Membutuhkan Institusi Anti-Capture
Di sinilah The Blind Spot memberikan pelajaran terpenting bagi RPJPN 2025–2045.
Transformasi ekonomi perlu berjalan bersama transformasi institusi. Indonesia membutuhkan pertumbuhan tinggi, tetapi juga persaingan usaha yang sehat. Membutuhkan investasi besar, tetapi juga transparansi. Membutuhkan perusahaan nasional yang semakin kuat, tetapi sekaligus negara yang cukup kuat untuk mengatur perusahaan besar tersebut secara adil. Membutuhkan stabilitas politik, tetapi stabilitas yang lahir dari legitimasi dan rule of law, bukan dari tertutupnya kompetisi politik.

BACA JUGA:  Tingkatkan Transparansi dan Akuntabilitas, OJK Luncurkan SEOJK

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *