Ketika Uang Murah Pulang dan Komoditas Menjadi Mahal (1-2)

Lukita Dinarsyah Tuwo

Kenaikan yield Jepang bukan hanya cerita tentang Jepang. Ia mengubah harga uang dunia. Bahkan usulan indeks baru GPFG Norwegia akan menaikkan porsi obligasi Jepang dari sekitar 4,6 persen menjadi 7,4 persen. Jepang yang selama ini mengekspor modal perlahan dapat kembali menjadi pesaing dalam memperebutkan modal global.

The Fed Kembali Menekan Rem

Tekanan ketiga datang dari Federal Reserve. Pada 16 September 2026, The Fed resmi menaikkan federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Keputusan itu diambil secara bulat karena inflasi Amerika dinilai masih terlalu tinggi. Sebagian besar anggota The Fed bahkan memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan lagi sebelum akhir 2026.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Bukan Hanya Soal Langkah, tetapi Mesin Negaranya (4-5)

Kenaikan tersebut penting bukan hanya karena besarannya, tetapi karena arahnya. Setelah pasar cukup lama berharap pelonggaran, The Fed justru kembali memasuki jalur pengetatan. Dollar sempat menguat ke level tertinggi dalam tujuh minggu, yield Treasury dua tahun naik menjadi sekitar 4,73 persen, sedangkan yield sepuluh tahun berada di sekitar 5 persen.

Eropa menghadapi tekanan serupa. European Central Bank menaikkan suku bunga menjadi 2,5 persen karena lonjakan harga energi dan inflasi. Yield Bund Jerman sepuluh tahun bergerak sekitar 3,5 persen, tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Prancis dan Italia juga menghadapi biaya pinjaman lebih tinggi ketika kondisi fiskalnya sedang rapuh.

BACA JUGA:  US Treasury Mulai Dipertanyakan, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?

Dengan demikian, pasar menghadapi situasi yang tidak biasa. Amerika mengetat. Eropa mengetat. Jepang mulai mengetat. Tiga pusat utama likuiditas global tidak lagi berjalan ke arah pelonggaran.

Di sinilah teori global financial cycle menjadi relevan. Walaupun setiap negara memiliki kebijakan moneter sendiri, arus modal global sangat dipengaruhi suku bunga Amerika, kekuatan dollar, leverage investor, dan persepsi risiko. Ketika kondisi keuangan global mengetat, negara berkembang dapat mengalami arus modal keluar sekalipun fundamental domestiknya tidak berubah secara mendadak.

Minyak Membuat Dilema Semakin Mahal

Masalah belum berhenti pada suku bunga. Harga minyak Brent per 17 September 2026 masih berada sekitar 104 dollar AS per barel, meskipun telah turun dari level sebelumnya. WTI masih sedikit di atas 100 dollar AS. Gangguan di Selat Hormuz, konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran, serta kerusakan infrastruktur energi di kawasan membuat pasar tetap mengkhawatirkan pasokan.

BACA JUGA:  OPINI: Belajar dari Phu Quoc, Mengapa Vietnam Bisa Menjadi Kiblat Pariwisata Baru dan Apa yang Harus Dipelajari Indonesia?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *