Ketika Uang Murah Pulang dan Komoditas Menjadi Mahal (1-2)

Lukita Dinarsyah Tuwo

Selat Hormuz biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan pada jalur tersebut bukan sekadar masalah Timur Tengah. Ia menjadi masalah transportasi, listrik, pupuk, pangan, dan biaya produksi dunia.

Tekanan juga terjadi pada gas. Harga LNG spot Asia melonjak hingga sekitar 26 dollar AS per juta British thermal units karena terganggunya pasokan Qatar. Impor LNG Asia pada September diperkirakan menjadi yang terendah sejak 2018 karena banyak negara tidak sanggup membeli pada harga tersebut.

Kenaikan harga energi menciptakan supply shock. Inflasi naik bukan karena masyarakat terlalu banyak berbelanja, tetapi karena biaya produksi dan distribusi meningkat. Bank sentral kemudian menghadapi dilema: menaikkan bunga dapat menahan permintaan, tetapi tidak dapat membuka kembali Selat Hormuz atau menambah produksi minyak.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Sahabat Pena, Ketika Perangko Menjadi Jembatan Hati

Jika bunga dinaikkan terlalu agresif, inflasi mungkin dapat ditekan, tetapi pertumbuhan dan pekerjaan ikut melemah. Jika bunga dibiarkan, kenaikan biaya energi dapat menyebar menjadi inflasi yang lebih permanen. Dunia akhirnya menghadapi risiko stagflation-lite: pertumbuhan melemah, tetapi harga dan bunga tetap tinggi.

Komoditas Mengirim Pesan yang Tidak Sama

Pergerakan harga komoditas lainnya memperlihatkan bahwa ketidakpastian global tidak hanya terjadi di pasar uang dan energi. Harga emas pada 17 September 2026 berada sekitar 4.315 dollar AS per troy ounce dan sempat naik sekitar 1,2 persen dalam sehari. Perak juga bergerak sekitar 64 dollar AS per ounce. Keduanya tetap tinggi walaupun The Fed menaikkan suku bunga.

BACA JUGA:  Ketika Kekayaan Menjadi Kekuasaan: Tantangan Indonesia Emas 2045 (2-3)

Secara teori, kenaikan suku bunga seharusnya mengurangi daya tarik emas karena emas tidak memberikan bunga atau kupon. Jika harga emas tetap naik ketika bunga Amerika naik, berarti kebutuhan untuk mencari perlindungan terhadap geopolitik, inflasi, risiko fiskal, dan ketidakpastian mata uang lebih kuat daripada kenaikan opportunity cost. Emas tidak sedang memberi sinyal bahwa dunia kehabisan uang. Emas memberi sinyal bahwa dunia mulai mempertanyakan tempat paling aman untuk menyimpannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *