Ransel Hitam dan Tasbih: Kisah Sederhana Seorang Pemimpin bernama Iman Sutiawan

Saya menyaksikan sebuah potret kesederhanaan yang berjalan tanpa pengumuman. Saya melihat seorang pejabat yang tak merasa perlu membawa seluruh simbol kekuasaannya ke dalam kabin pesawat.

Dan saya menyaksikan seutas tasbih yang seolah menjadi saksi bisu bahwa di tengah perjalanan hidup yang penuh urusan dunia, masih ada ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Barangkali, inilah salah satu pelajaran paling indah tentang kepemimpinan: jabatan boleh membuat seseorang dihormati, tetapi kesederhanaanlah yang membuatnya dikenang.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Walikota Batam Amsakar Serahkan Insentif RT dan RW di Sembilan Kecamatan

Sebab, pada akhirnya, kebesaran seorang manusia bukan terletak pada berapa banyak orang yang berdiri di belakangnya, melainkan pada seberapa kuat ia menjaga kerendahan hati ketika berada di puncak kekuasaan.

Dan pagi itu, di kursi 1A sebuah pesawat Citilink yang membelah langit menuju Batam, saya menemukan pelajaran itu pada seorang laki-laki bernama Iman Sutiawan. Dengan sebuah ransel hitam, seutas tasbih, dan kesederhanaan yang tak banyak bicara.(***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *