Ransel Hitam dan Tasbih: Kisah Sederhana Seorang Pemimpin bernama Iman Sutiawan

Oleh: Ady Indra Pawennari
Wakil Ketua Umum DPP Pro Jurnalismedia Siber

Pagi itu, Minggu (1/11/2026), jarum jam di tangan saya menunjukkan pukul 05.00 WIB. Suasana Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, masih diselimuti sisa-sisa keheningan dini hari. Satu per satu penumpang mulai memasuki pesawat Citilink yang akan membawa kami menuju Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau.

Di antara para penumpang yang berjalan menuju tempat duduk masing-masing, seorang laki-laki dewasa tampak memasuki kabin pesawat. Langkahnya biasa saja. Penampilannya pun tak mengundang perhatian khusus. Ia datang seorang diri.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Bapemperda Dewan Batam Mulai Bahas Penyusunan Propemperda 2026 Usulan Inisiatif DPRD

Tak ada ajudan yang berjalan di sampingnya. Tak ada pengawal yang membuka jalan. Tak terdengar suara protokoler yang biasanya mengiringi kehadiran seorang pejabat penting. Di punggungnya hanya tergantung sebuah ransel hitam sederhana, sebagaimana lazimnya tas yang dibawa penumpang kebanyakan.

Laki-laki itu menuju barisan kursi nomor 1. Ia membuka kabin, meletakkan ranselnya, kemudian duduk di kursi 1A, tepat di dekat jendela.

Saya sempat memperhatikannya dari sudut pandang yang tak terlalu jauh. Bibirnya bergerak pelan, komat-kamit seperti seseorang yang sedang melafalkan doa. Tak ada percakapan, tak ada kegaduhan. Hanya kesunyian yang seolah menjadi ruang pribadinya untuk berdialog dengan Sang Pencipta.

BACA JUGA:  Kadin Kepri Bidik Gelombang Investasi Baru, Anindya Bakrie Minta FTZ Dipasarkan Lebih Agresif

Saya sendiri duduk di kursi 1D. Hanya dipisahkan dua kursi dari tempat duduknya.
Setelah beberapa saat, saya mencoba menyapanya.

“Ketua, sendiri aja?” tanya saya.

“Ya, sendiri,” jawabnya singkat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *