Persoalannya, peningkatan produksi tidak bisa hanya mengandalkan semangat petani. Ada irigasi yang harus dipastikan berfungsi. Ada hama yang harus dikendalikan. Ada perubahan cuaca yang harus diantisipasi. Ada teknologi yang harus masuk ke lahan. Dan yang tidak kalah penting, ada pasar yang harus menjamin hasil produksi petani memiliki nilai ekonomi.
Salah satu langkah yang mulai menjawab persoalan tersebut adalah hadirnya jaringan air irigasi sawah melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Sumatera IV Batam.
Bagi petani, irigasi bukan sekadar infrastruktur. Ketersediaan air yang lebih terjamin memberikan peluang bagi petani untuk menjaga siklus tanam, mempertahankan produktivitas dan mengurangi risiko ketika kondisi cuaca memasuki musim kemarau.
Nyanyang menilai penguatan infrastruktur dasar tersebut harus berjalan bersamaan dengan pendampingan dan modernisasi pertanian.
“Pertanian bukan hanya berbicara soal produksi, tetapi juga bagaimana petani bisa sejahtera dan memiliki kepastian dalam mengembangkan usahanya. Karena itu, kita harus bersama-sama mendorong peningkatan produktivitas,” ujar Nyanyang.
Pernyataan tersebut menunjukkan satu hal penting: pembangunan pertanian tidak cukup diukur dari luas lahan atau jumlah panen. Ukuran akhirnya adalah seberapa besar pertanian mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi daerah.
Kelompok Tani Harapan Makmur memiliki sekitar 3,5 hektare lahan sawah yang tanamannya masih menuju masa panen. Ditambah lahan Kelompok Tani Cipto Dadi sekitar 6 hektare, terdapat total sekitar 9,5 hektare lahan sawah yang masih memiliki peluang untuk terus dikembangkan.











