Ketika Uang Murah Pulang dan Komoditas Menjadi Mahal (1-2)

Lukita Dinarsyah Tuwo

Sementara itu, tembaga berada di kisaran lebih dari 14.000 dollar AS per ton, mendekati rekor. Kenaikannya didorong oleh pasokan tambang yang terbatas serta kebutuhan besar untuk jaringan listrik, kendaraan listrik, pusat data, dan investasi kecerdasan buatan. Jika emas mencerminkan ketakutan, tembaga mencerminkan transformasi teknologi. Bagi Indonesia, tingginya harga tembaga membuka peluang ekspor dan hilirisasi, tetapi peluang itu baru bermakna apabila menghasilkan nilai tambah, teknologi, pajak, devisa bersih, dan keterkaitan dengan industri domestik.

Batu bara juga berada di sekitar 145 dollar AS per ton dan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Mahalnya LNG membuat sejumlah negara Asia kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga keamanan energi. Harga CPO diperkirakan bertahan di atas 4.600 ringgit Malaysia per ton, didorong keterbatasan minyak nabati, faktor cuaca, serta permintaan biodiesel. Keduanya dapat memperkuat ekspor, devisa, royalti, dan penerimaan Indonesia. Namun, CPO yang semakin banyak diserap untuk B50 atau kelak B60 juga menciptakan kompetisi antara ekspor, biodiesel, penerimaan negara, dan ketersediaan minyak goreng domestik.

BACA JUGA:  OPINI: Bencana Kimia Massif, Bahaya Kaporit Dalam Air

Nikel justru menyampaikan pesan berbeda. Harganya tidak melonjak seperti emas dan tembaga karena pasokan global, terutama dari Indonesia, meningkat pesat. Kebijakan formula harga baru untuk bijih nikel kadar rendah dapat membantu kelangsungan smelter HPAL, tetapi sekaligus berpotensi menurunkan harga bijih, royalti, serta penerimaan negara. Ini mengingatkan bahwa hilirisasi tidak otomatis menghasilkan rente tinggi. Pabrik dapat semakin banyak, tetapi keuntungan, devisa bersih, penerimaan fiskal, dan kandungan lokal belum tentu bertambah dengan kecepatan yang sama.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Saat Kritik Dibalas Pelukan: Pelajaran tentang Jiwa Besar dan Pengkhianatan Kepercayaan

Tekanan juga mulai terlihat pada pangan. Produksi beras India diperkirakan turun sekitar 10 juta ton atau 6,5 persen akibat curah hujan yang kurang baik, meskipun stoknya masih besar. Gangguan serupa pada beberapa negara produsen dapat dengan cepat mengubah harga dan kebijakan ekspor pangan dunia. Bagi Indonesia, ancaman pangan tidak hanya berasal dari kurangnya produksi domestik, tetapi juga dari kemungkinan negara pemasok membatasi ekspor ketika pasar global mulai panik.

Dengan demikian, kenaikan harga komoditas tidak membawa satu pesan yang sama. Emas berbicara tentang ketakutan. Tembaga berbicara tentang transformasi. Minyak dan LNG berbicara tentang kerawanan geopolitik. Batu bara dan CPO menawarkan tambahan devisa. Nikel memperingatkan risiko kelebihan pasokan. Pangan mengingatkan bahwa perubahan iklim dan kebijakan ekspor dapat segera berpindah dari ladang ke meja makan.

BACA JUGA:  Kekayaan yang Tidak Terkubur di Dalam Tanah (2-5)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *