Pasar obligasi mulai menjalankan fungsi yang dikenal sebagai disiplin oleh bond vigilantes. Ketika investor menilai kebijakan fiskal tidak berkelanjutan, mereka menjual obligasi atau meminta imbal hasil lebih tinggi. Pemerintah boleh menjelaskan, bank sentral boleh menenangkan, dan menteri keuangan boleh melakukan buyback. Tetapi pasar tetap mengajukan pertanyaan sederhana: siapa yang akan membayar utang dan bunganya?
Uang Murah Jepang Mulai Pulang
Perubahan kedua datang dari Jepang. Selama puluhan tahun, Jepang merupakan salah satu sumber uang murah terbesar dunia. Suku bunganya sangat rendah, bahkan pernah negatif. Investor dapat meminjam yen dengan biaya hampir nol, lalu menempatkan dana tersebut pada obligasi, saham, dan aset negara lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Strategi ini disebut yen carry trade: meminjam dalam mata uang berbunga rendah dan berinvestasi dalam aset berbunga lebih tinggi.
Strategi tersebut menguntungkan selama dua syarat terpenuhi. Pertama, selisih bunga tetap lebar. Kedua, yen tidak menguat secara tajam. Jika salah satu berubah, keuntungan dapat hilang. Jika keduanya berubah bersamaan, investor dapat bergegas menutup posisi.
Pada awal September 2026, imbal hasil obligasi Pemerintah Jepang sepuluh tahun menembus 3 persen untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga dekade. Pada saat bersamaan, yen sempat menguat hampir 5 persen dalam waktu singkat. Per 17 September, yield tersebut masih bergerak di sekitar 3 persen. Pasar juga memperkirakan Bank of Japan kembali menaikkan suku bunga.
Bagi Jepang, yield 3 persen mungkin terlihat kecil dibandingkan negara berkembang. Namun, bagi ekonomi yang terbiasa dengan bunga mendekati nol, angka itu merupakan perubahan besar. Uang yang sebelumnya harus pergi ke luar negeri untuk mencari hasil kini mulai menemukan alasan untuk pulang.
Ketika investor menutup carry trade, mereka menjual aset di luar Jepang, kemudian membeli yen untuk melunasi pinjamannya. Proses ini disebut unwinding. Ia tidak otomatis menimbulkan krisis, tetapi dapat terjadi serentak dan memperbesar volatilitas. Aset negara berkembang biasanya menjadi salah satu yang pertama ditinjau ulang karena likuid dan relatif mudah dijual.











