Ketika Uang Murah Pulang dan Komoditas Menjadi Mahal (1-2)

Lukita Dinarsyah Tuwo

Dunia Sedang Mengganti Harga Kenyamanan

Perubahan global saat ini bukan serangkaian kejadian yang berdiri sendiri. Utang Amerika yang membesar menaikkan yield global. Normalisasi Jepang menarik pulang sebagian uang murah. The Fed kembali mengetatkan likuiditas. Konflik geopolitik menaikkan harga minyak dan gas. Emas menguat karena ketakutan, sementara tembaga naik karena transformasi teknologi. Pangan mulai terancam oleh cuaca dan pembatasan ekspor.

Semua jalurnya akhirnya bertemu di negara seperti Indonesia: pada rupiah, SBN, APBN, bunga kredit, harga energi, biaya pangan, investasi, dan kesempatan kerja.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pasca-Idul Fitri 2026, Pertamina Sumbagut Pastikan Pasokan Energi Tetap Aman

Kita tidak perlu panik. Tetapi kita juga tidak boleh menghibur diri dengan mengatakan fundamental selalu baik-baik saja. Fundamental bukan slogan yang dibacakan ketika pasar bergejolak. Fundamental adalah kemampuan menghasilkan devisa, menjaga fiskal, mengendalikan inflasi, membangun kepercayaan, dan mengambil keputusan sebelum keadaan memaksa.

Dunia sedang mengganti harga kenyamanan. Uang murah tidak lagi murah. Energi murah tidak lagi pasti. Pangan murah semakin rentan. Bahkan aset aman tidak lagi diterima tanpa pertanyaan.

Indonesia masih memiliki pilihan. Namun, pilihan itu harus dibuat cepat, kredibel, dan terkoordinasi. Sebab badai ekonomi jarang mengirim undangan resmi. Ia biasanya datang ketika pemerintah masih sibuk menyusun jadwal rapat untuk membahas apakah langit memang sudah mulai gelap.

BACA JUGA:  Bupati Aneng Gelar Acara Istimewa Kedaerahan Sambut Peserta Sail Indonesia Yacht Raily 2025

Jakarta, 17 September 2026

LDT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *