Menurutnya, biaya produksi air melalui SWRO relatif tinggi jika dibandingkan dengan harga air yang selama ini dibayarkan pelanggan rumah tangga. Oleh sebab itu, pemanfaatannya perlu diarahkan pada segmen yang sesuai dengan karakteristik biaya produksinya.
“Kalau SWRO, tentu perhatian kita lebih kepada kalangan dunia industri atau menengah atas, karena harga SWRO dengan harga rata-rata untuk pelanggan masyarakat kita tidak masuk,” kata Amsakar.
Ia menegaskan, pengembangan teknologi tersebut perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan lokal dan rencana investasi yang akan masuk ke Batam.
Namun, Amsakar menegaskan bahwa rencana pengembangan SWRO yang disampaikannya bukan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sektor pusat data (data center).
Keseimbangan Kebutuhan Masyarakat dan Dunia Usaha
Di tengah pertumbuhan investasi, BP Batam menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan air rumah tangga dan kebutuhan kegiatan ekonomi.
Amsakar menjelaskan, komitmen penyediaan air dalam kesepakatan investasi perlu memperhitungkan kapasitas pasokan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, pembahasan mengenai kebutuhan air bagi pelaku usaha harus dilakukan secara terukur sejak tahap perencanaan.











