Ketika investasi tidak lagi cukup
World Development Report 2024 menjelaskan transformasi menuju negara maju melalui strategi “3i”: investment, infusion, dan innovation. Pada tahap awal, negara dapat tumbuh dengan investasi. Pada tahap berikutnya, investasi harus disertai kemampuan menyerap dan menyebarkan teknologi dari luar.
Ketika memasuki kelompok pendapatan menengah atas, negara harus menambahkan inovasi—bukan hanya menggunakan teknologi yang diciptakan negara lain, tetapi mulai ikut mendorong batas teknologi.
Inilah titik peralihan yang paling sulit.
Pengalaman Korea Selatan menunjukkan bahwa sekitar 90,9 persen perlambatan pertumbuhan pendapatan per kapita pada kelompok negara yang terjebak dijelaskan oleh penurunan total factor productivity atau TFP.
Investasi tetap penting, tetapi modal fisik bukan faktor yang membedakan negara yang berhasil keluar dari jebakan dengan negara yang tertahan di dalamnya. Pembeda utamanya adalah produktivitas dan modal manusia.
Pelajarannya sederhana, tetapi sering kita abaikan: pertanyaannya bukan hanya berapa besar investasi yang masuk, melainkan kemampuan apa yang ditinggalkannya.
Apakah investasi membangun pemasok domestik? Apakah terjadi transfer teknologi? Apakah tenaga kerja Indonesia naik kelas? Apakah perusahaan lokal mampu merancang produk sendiri? Apakah produktivitas meningkat setelah insentif diberikan?
Jika jawabannya tidak, investasi mungkin menambah pertumbuhan hari ini, tetapi belum tentu membangun kemampuan untuk esok hari.
Empat jalan untuk terus berubah
Singapura merangkum transformasinya melalui kerangka delapan S: survival, strategy, structure, stewardship, sagacity, synergy, simplicity, dan sustainability. Di balik istilah tersebut terdapat satu pola pikir: kerentanan harus diubah menjadi kekuatan.











