Bukan Endowment Negara, tetapi Kemampuannya yang Berubah (1-5)

Pelajaran Singapura, Tiongkok, Korea, dan Jepang bagi Indonesia

OPINI oleh : Lukita Dinarsyah Tuwo

Pada 8–9 September 2026, Bappenas dan Asian Development Bank Institute menyelenggarakan Bappenas–ADBI Joint Conference on Asian Countries Long-Term Development Visions di Jakarta. Pada hari pertama (8 September 2026), secara on line, sesi bertajuk Development Transformation: Country Experiences and Lessons from Asia mempertemukan pengalaman pembangunan Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang. Tulisan ini yang pertama dari 5 tulisan yang disusun berdasarkan sesi tersebut.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  PLN Batam Raih Bintang 5 Penghargaan TOP Human Capital Awards 2025

Negara tidak dapat memilih seluruh keadaan awal yang diwarisinya (Endowment). Tetapi negara dapat memilih bagaimana mengolahnya. Kemajuan akhirnya tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan mengubah yang dimiliki menjadi produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan.

Empat negara. Empat ukuran. Empat perjalanan sejarah. Bahkan empat sistem pembangunan yang tidak sepenuhnya sama.

Singapura adalah sebuah negara-kota dengan pasar domestik dan sumber daya alam yang terbatas. Tiongkok adalah negara kontinental dengan jumlah penduduk, pasar, dan kapasitas produksi yang sangat besar. Jepang bangkit dari kehancuran Perang Dunia II, sedangkan Korea Selatan tumbuh di tengah pembelahan negara dan ancaman keamanan yang terus membayanginya.

BACA JUGA:  Mundur dari PWI, Ady Indra Pawennari: Selamat Berpisah, Sampai Jumpa di Ujung Jalan

Namun, justru dari perbedaan tersebut muncul satu pertanyaan penting: jika besarnya negara, kekayaan alam, sistem politik, dan kondisi awal mereka berbeda, mengapa keempatnya mampu melakukan transformasi ekonomi yang luar biasa?

Pertanyaan inilah yang akan dibahas dalam lima tulisan. Tulisan pertama membuka tesis besarnya: kemajuan tidak ditentukan oleh endowment negara, tetapi oleh kemampuannya berubah. Tulisan kedua akan membahas mengapa kekayaan yang paling menentukan tidak selalu tersimpan di dalam tanah, melainkan dibangun di dalam diri manusia dan perusahaan.

Tulisan ketiga akan menelaah geografi, geopolitik, dan rasa survival—serta mengapa geografi memberi tekanan, tetapi tidak menentukan takdir. Tulisan keempat akan masuk ke jantung persoalan: governance dan kelembagaan, dengan menggunakan antara lain pemikiran Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James Robinson. Tulisan kelima akan menarik seluruh pelajaran tersebut ke dalam agenda transformasi Indonesia.

BACA JUGA:  Satgas PASTI Tutup 13 Ribu Entitas Ilegal, Kerugian Publik Tembus Rp142 Triliun

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *