Ady Indra Pawennari dan Dua Wajah Kepercayaan: Buku yang Terbit, Janji yang Menghilang

Saya menyambut gagasan itu dengan antusias. Apalagi, di antara kami bertiga, hanya saya yang belum pernah menerbitkan buku.

Sejak mulai menjadi wartawan pada 1996, saya merasa sudah cukup banyak menulis opini. Sayangnya, naskah-naskah itu tercecer entah di mana.

“Tulisan saya banyak. Tapi entah di mana sekarang. Nantilah saya kumpulkan,” ujar saya waktu itu.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  MaxOne Batam Fun Run 2026 Siap Digelar, Ajak Komunitas Lari Ramaikan Lintasan 5K

Kami sepakat masing-masing menyumbangkan 10 tulisan. Dalam perjalanan, saya menyerahkan 13 naskah, sedangkan Suyono menyumbangkan 12 opini. Ridarman tetap dengan 10 artikelnya.
Begitulah.

Gagasan yang semula hanya menjadi teman obrolan di kedai kopi perlahan menemukan bentuknya. Melalui Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), buku itu akhirnya terbit.

Saya tidak pernah membayangkan Caping akan menjadi sesuatu yang begitu berarti bagi perjalanan pribadi saya. Semula, saya hanya ingin ikut merawat tradisi menulis.

Namun, ketika buku itu benar-benar berada di tangan, saya merasakan kebahagiaan yang berbeda: ternyata, gagasan sederhana yang disambut dengan ketulusan dapat melahirkan sesuatu yang nyata.

BACA JUGA:  Sudah 25.091 Kendaraan Terdaftar, Batam Luncurkan Fuel Card 5.0 Jenis Pertalite

Di situlah saya menyadari, sebuah karya tidak selalu harus lahir dari ambisi besar. Terkadang, ia tumbuh dari percakapan sederhana, dari persahabatan, dan dari kesediaan untuk menepati apa yang telah disepakati.

Namun, kebahagiaan itu rupanya juga membuka pintu bagi sebuah kenangan lama yang selama ini berusaha saya simpan jauh-jauh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *