Tak lama kemudian, saya kembali mengirimkan biaya operasional agar proses penyusunan biografi itu berjalan lancar.
Saat itu, hati saya berbunga-bunga. Saya membayangkan suatu hari nanti akan ada sebuah buku yang merekam perjalanan panjang saya sebagai wartawan. Bukan untuk membanggakan diri, apalagi merasa lebih hebat daripada orang lain, melainkan sebagai catatan perjalanan yang mungkin dapat dipetik pelajarannya oleh generasi sesudah saya.
Beberapa bulan kemudian, saya menanyakan perkembangannya. Jawabannya, penulisan masih berproses. Saya memaklumi. Menulis buku memang membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesungguhan.
Namun, waktu terus berjalan. Menjelang setahun, kabarnya mulai menghilang. Pesan-pesan saya tak lagi mendapat jawaban sebagaimana sebelumnya. Saya mencoba menghubunginya, berharap memperoleh penjelasan tentang janji yang pernah ia ucapkan.
Sayangnya, harapan itu tak kunjung menemukan jawaban.
Kini, tiga tahun telah berlalu. Biografi yang dijanjikan tak pernah terbit. Tak ada buku, tak ada naskah yang diserahkan, bahkan tak ada penjelasan yang memadai untuk menutup penantian panjang tersebut.
Yang tersisa hanyalah ingatan tentang sebuah janji dan pertanyaan yang terus mengendap di kepala.
Kau yang memulai, kau pula yang berjanji. Mengapa akhirnya saya yang harus menanggung kecewa?
Saya kira kekecewaan itu sudah cukup menjadi pelajaran. Ternyata, persoalannya tidak berhenti pada biografi yang tak kunjung selesai.
Hubungan kami justru berubah menjadi sesuatu yang tak pernah saya bayangkan: permusuhan.
Suatu hari, saya menerima tangkapan layar percakapan dari sebuah grup WhatsApp bernama PWI Berintegritas. Di dalamnya, terdapat pesan yang mendorong wartawan memberitakan saya seolah-olah sedang ditangkap dan ditahan polisi.











