Belakangan, saya mengetahui bahwa pemimpin redaksi media tersebut adalah orang yang dahulu berjanji menulis biografi saya.
Di titik itulah kekecewaan saya terasa semakin dalam.
Bukan semata-mata karena sebuah buku tidak pernah selesai. Bukan pula karena uang dan waktu yang telah saya keluarkan.
Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa seseorang yang pernah saya percaya justru berada di tengah persoalan yang membuat saya merasa disudutkan oleh sesama wartawan.
Saya tidak ingin berspekulasi tentang motif di balik sikap tersebut. Namun, saya berhak mempertanyakan mengapa hubungan yang semula dibangun atas kepercayaan akhirnya berubah menjadi permusuhan.
Beberapa rekan menyarankan agar saya menempuh jalur hukum atas janji yang tidak ditepati dan kerugian yang saya alami. Saya memahami saran itu.
Akan tetapi, setiap kali hendak melangkah lebih jauh, ada sesuatu di dalam hati yang menahan saya. Kami lahir dari rahim yang sama, rahim jurnalistik.
Kami sama-sama mengenal dunia yang mengajarkan pentingnya kata, fakta, tanggung jawab, dan keberanian mempertahankan kebenaran.
Karena itu, saya selalu bertanya kepada diri sendiri, mengapa orang-orang yang seharusnya memahami etika profesi justru bisa saling melukai dengan cara seperti ini?
Saya tidak pernah menuntut semua orang harus menyukai saya. Saya pun tidak berharap setiap wartawan selalu sepakat dengan pandangan saya. Perbedaan adalah hal biasa. Kritik juga bukan sesuatu yang harus ditakuti.











