“Sepengetahuan saya memang sudah mungkin lebih dari 10 tahun rusak. Tetapi secara bertahap, ada beberapa jalan yang sudah mulai ditambal sulam dan diperbaiki,” ujar Lazuardi.
Ia menilai perbaikan infrastruktur harus menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mempersiapkan Lingga menerima semakin banyak wisatawan.
“Di Kabupaten Lingga ini selain wisata sejarah dan budaya, juga alam bahari yang menjanjikan. Dengan berbondong-bondongnya wisatawan datang ke Kabupaten Lingga, kita juga harus melakukan pembenahan untuk menerima tamu yang berkunjung,” katanya.
Menurut Lazuardi, keberadaan transportasi umum sebenarnya mulai membantu akses wisatawan ke sejumlah kawasan. Namun, persoalan kondisi jalan masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan.
Ia mencontohkan terdapat sejumlah ruas dari wilayah Dabo menuju kawasan SP3 dan sejumlah desa yang masih memiliki bagian jalan berupa tanah merah.
“Damri juga sudah masuk ke sini, tetapi ada beberapa jalan yang masih tanah merah. Kadang-kadang kalau musim hujan juga menjadi kendala untuk menuju ke kawasan pantai,” ujarnya.
Keluhan mengenai kondisi jalan tersebut juga menjadi perhatian karena akses yang nyaman tidak hanya dibutuhkan wisatawan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan aktivitas ekonominya pada sektor pariwisata.
Ketika akses menuju destinasi mudah, peluang wisatawan untuk berkunjung dan menghabiskan waktu lebih lama di Lingga ikut meningkat.










