Sebagai solusi, DLH menyiapkan pengadaan 100 unit bin kontainer baru pada 2026 yang akan ditempatkan di titik permukiman rawan penumpukan.
“Tahun 2026 ini kita akan mengadakan 100 bin kontainer. Kita akan merapikan TPS-TPS yang berada di daerah pemukiman,” jelas Dohar.
Selain itu, pemerintah akan membangun landasan beton di area TPS agar lokasi penampungan lebih mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan bau setelah pengangkutan.
Meski rencana pembenahan sudah disiapkan, pekerjaan rumah DLH masih besar. Armada pengangkut sampah menjadi salah satu persoalan utama karena banyak kendaraan dilaporkan rusak, bocor, dan kerap meninggalkan ceceran di jalan.
Masalah kedisiplinan jadwal juga menjadi tantangan. Ketidakpastian waktu pengangkutan selama ini membuat sebagian warga memilih membuang sampah sembarangan.
Karena itu, penambahan kontainer dan percepatan jadwal dinilai belum cukup tanpa pembenahan armada, peningkatan pengawasan petugas, serta kepastian layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Jika berhasil, reformasi sistem persampahan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup warga, tetapi juga memperkuat citra Batam sebagai kota industri dan investasi yang bersih, tertata, dan kompetitif. (***)










