Oleh: Ady Indra Pawennari
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri
IDNNEWS.CO.ID, BATAM — Malam itu, Selasa (4/8/2026), angin di sekitar Restoran Golden Prawn, Batam, terasa hangat. Kami baru saja menyelesaikan santap malam bersama. Duduk memanjang mengitari meja, kami semua sebenarnya membawa satu denyut nadi yang sama: mencari jalan keluar untuk masa depan jurnalisme di Kepulauan Riau.
Sebagai Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), dada saya bergemuruh oleh optimisme. Dalam benak saya, rencana menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Tanjungpinang pada akhir Agustus 2026 nanti akan disambut dengan tangan terbuka dan pelukan hangat oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)—organisasi profesi tertua di negeri ini, tempat di mana saya sendiri masih bangga terdaftar sebagai anggota aktif.
Namun, harapan indah itu mendadak runtuh di menit-menit pertama. Atmosfer ruangan seketika berubah mencekam. Ruang makan yang hangat mendadak beku ketika Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, mempertontonkan sikap otoriter dan temperamen yang meledak-ledak di hadapan kami semua.
Pemicunya teramat sederhana, bahkan jauh dari kesan memusuhi. Richard Nainggolan—seorang wartawan senior, anggota aktif PWI, sekaligus pengurus KJK yang akrab kami sapa Opung—bertanya dengan nada yang sangat santun. Beliau hanya meminta setitik kejelasan mengenai rencana pelantikan pengurus PWI Kepri ke depan: apakah pelantikan itu lahir dari rahim rekonsiliasi yang damai, ataukah hasil dari Konferensi Luar Biasa (KLB)?
Sebuah pertanyaan yang logis, konstitusional, dan keluar dari mulut seorang wartawan senior yang peduli pada rumahnya. Namun, pertanyaan itu justru dibalas dengan ledakan amarah yang meruntuhkan martabat seorang pemimpin. Dengan wajah memerah menahan murka, Akhmad Munir berdiri dari kursinya.
Aksi provokatif itu seketika memicu beberapa pengurus PWI Kepri lainnya untuk ikut meradang. Ruangan yang semula tenang langsung pecah oleh bentakan kasar yang diarahkan langsung ke wajah Opung Richard. Beliau diusir secara paksa.
“Kalau jenengan ngomong KLB lagi. Pulang, pulang!” bentak Munir dengan nada tinggi penuh amarah.
Melihat seorang jurnalis senior, seorang guru bagi junior-juniornya, diusir dan dibentak layaknya seorang kriminal di depan umum, sungguh menyayat hati kami yang menyaksikan. Rasanya perih dan memalukan. Namun, di tengah badai murka dan arogansi yang meluap-luap itu, sebuah pemandangan magis dan menggetarkan jiwa terjadi.
Opung Richard tetap diam. Tidak ada satu pun riak kemarahan di wajah senjanya. Sinar matanya tetap teduh, dan tubuhnya tidak bergeming barang satu sentimeter pun. Ketenangan Opung malam itu menjadi tamparan sunyi yang luar biasa keras. Malam itu, seluruh ruangan melihat dengan sangat jelas: mana sosok yang matang dan bijaksana oleh pengalaman hidup, dan mana sosok yang sekadar menggunakan jubah kekuasaan untuk membungkam kebenaran.










