OPINI: Ketika Air Masih Jadi Halaman Belakang, Kota Air Indonesia Terus Tertinggal

Abdullah Rasyid
Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN, sedang menjalani studi strategis di Shanghai

Di Shanghai, tepatnya di kota air Zhujiajiao, air bukan hanya latar belakang. Ia adalah ”halaman depan“ kota: jernih, teratur, dan dipelihara dengan cermat, dihiasi jembatan kuno, perahu kayu, taman kota, dan jalan pejalan kaki yang lebar.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI: Bertaruh Nasib di Batam: Bumi Semua Bangsa

Di sana, sungai tidak diperlakukan sebagai saluran pembuangan atau batas kampung, tetapi sebagai ruang publik yang menjadi pusat aktivitas wisata, ekonomi, dan identitas kota. Zhujiajiao adalah contoh nyata bagaimana air dijadikan wajah kota, bukan sekadar sisa ruang.

Di Indonesia, kenyataannya sangat berbeda. Di banyak kota, air, sungai, pantai, dan danau, masih dianggap “halaman belakang”. Ia diposisikan sebagai kolong, batas kampung, atau area yang boleh diisi dengan parkir, bengkel, dan kafe yang menghadap ke belakang.

Sungai sering dipenuhi sampah, sempadan direbut bangunan liar, dan kawasan pesisir banyak dijadikan tempat pembuangan limbah, bukan ruang terbuka hijau yang dinikmati warga. Secara penataan ruang, ini bukan sekadar kelalaian estetika, melainkan kesalahan paradigma: air dianggap sisa ruang, bukan ruang strategis.

BACA JUGA:  Tangani 84 Persen Arus Peti Kemas Batam, Batu Ampar Tancap Gas Perkuat Akses Global

Perbedaan mendasar ini terlihat jelas di Cina dan beberapa kota di Asia Tenggara serta Asia Timur. Di kota‑kota besar, sungai dan danau dirancang sebagai “halaman depan” kota: taman panjang, jalan pejalan kaki, jembatan, dermaga wisata, dan kafe yang menghadap ke air.

Program kota spons (*sponge city*) dan konsep *waterfront* bahkan sengaja menempatkan air sebagai bagian integral dari ruang publik, sekaligus perlindungan terhadap banjir dan manajemen air hujan. Di tempat lain, seperti Hanoi, Bangkok, dan Ho Chi Minh City, sungai kota dirancang untuk menjadi tulang punggung kawasan ekonomi dan wisata, bukan hanya jalur transportasi dan pembuangan.

BACA JUGA:  Dewan dan DLH serta 12 Camat Bahas 'Meledaknya' Permasalahan Sampah di Batam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *