OPINI: Bukan Real Madrid, Bukan Milan: Dunia Kini Menoleh ke Como—dan Ada Indonesia di Baliknya

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Namun, justru di situlah arti penting investasi tersebut.

Djarum tidak datang ketika Como telah menjadi klub besar. Mereka datang ketika klub ini masih berada di bawah, menghadapi keterbatasan keuangan, infrastruktur, organisasi, dan kepercayaan diri.

Setelah pengambilalihan tersebut, Como menjuarai Serie D pada 2019 dan kembali ke kompetisi profesional. Pada 2021, Como menjuarai Serie C dan promosi ke Serie B. Setelah tiga musim di Serie B, Como akhirnya kembali ke Serie A pada 2024, mengakhiri penantian selama 21 tahun. Pada musim pertamanya setelah kembali, Como langsung finis di posisi ke-10.

Bacaan Lainnya

Lompatan berikutnya bahkan lebih mengejutkan. Como menutup musim 2025/2026 di peringkat keempat dan lolos ke Liga Champions.  menyebut pencapaian ini sebagai perubahan besar dalam sepak bola Italia: Como masuk ke Liga Champions justru ketika Juventus dan AC Milan gagal memperoleh tiket ke kompetisi tersebut secara bersamaan untuk pertama kalinya dalam hampir 35 tahun. Pemain muda Nico Paz menjadi salah satu motor utama dengan 12 gol dan tujuh assist sepanjang musim. Cesc Fàbregas menyebut keberhasilan tersebut sebagai hasil kerja seluruh tim—sebuah masterpiece. ()

Dalam waktu sekitar tujuh tahun, Como bergerak dari sepak bola amatir menuju panggung tertinggi Eropa. Ini bukan sekadar promosi dari satu divisi ke divisi lainnya. Ini adalah transformasi organisasi.

Modal Memang Penting, tetapi Tidak Cukup

Mudah untuk mengatakan bahwa Como berhasil karena pemiliknya kaya. Keluarga Hartono memang memiliki kemampuan finansial yang sangat besar. Namun, banyak klub sepak bola di dunia pernah menerima suntikan modal besar tanpa menghasilkan keberhasilan yang berkelanjutan.

Uang dapat membeli pemain, tetapi tidak otomatis membangun tim. Uang dapat memperbaiki stadion, tetapi tidak otomatis menciptakan rasa memiliki. Uang dapat mendatangkan pelatih terkenal, tetapi tidak otomatis membentuk budaya organisasi.

Kekuatan Como justru terletak pada kemampuan mengubah modal menjadi kapabilitas.

Manajemen klub membangun struktur yang lebih profesional, memperkuat tim utama dan akademi, memperbaiki infrastruktur, serta memberi kepercayaan kepada orang-orang yang dianggap memahami sepak bola modern. Cesc Fàbregas, sang pelatih, tidak sekadar dipakai sebagai nama besar. Ia diberi ruang untuk membentuk identitas permainan, mengembangkan pemain muda, dan membangun proyek jangka panjang.

Pos terkait