OPINI: Bukan Real Madrid, Bukan Milan: Dunia Kini Menoleh ke Como—dan Ada Indonesia di Baliknya

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Namun, kritik itu tidak menghapus pelajaran besarnya. Klub yang ingin dicintai tidak cukup hanya membangun tim juara. Ia harus membangun kepercayaan dan memberikan manfaat kepada kotanya.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Como memberikan kebanggaan yang agak berbeda bagi Indonesia.

Bacaan Lainnya

Selama ini, kebanggaan olahraga kita umumnya muncul ketika atlet Indonesia memenangkan pertandingan atau mengibarkan Merah Putih. Di Como, kebanggaan itu lahir dari kemampuan orang Indonesia membangun institusi di lingkungan yang sangat kompetitif.

Indonesia hadir bukan sebagai penonton, sponsor kecil, atau pasar penjualan kaus. Indonesia hadir sebagai pemilik visi, pengambil keputusan, pengelola transformasi, dan pembangun ekosistem.

Pelajarannya bahkan melampaui sepak bola.

Como menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengelola organisasi berstandar internasional. Kita mampu merekrut talenta terbaik dari berbagai negara, memberikan mandat secara profesional, membangun merek global, menyatukan olahraga dengan pariwisata dan ekonomi kreatif, serta memperoleh kepercayaan masyarakat lokal di negara lain.

Namun, kebanggaan itu seharusnya tidak berhenti pada kekaguman.

Pertanyaannya adalah: apabila orang Indonesia dapat membantu membangkitkan klub kecil di Italia, mengapa kemampuan yang sama tidak dapat digunakan untuk membangun klub, kota, dan ekosistem olahraga di Indonesia?

Indonesia Membutuhkan “Como-Como” Lain

Indonesia tidak kekurangan klub dengan sejarah panjang. Kita mempunyai Persib Bandung, Persebaya Surabaya, PSM Makassar, PSIM Yogyakarta, Persis Solo, Persija Jakarta, Arema, Bali United, dan banyak klub lain yang memiliki ikatan emosional kuat dengan masyarakatnya.

Indonesia juga tidak kekurangan kota dengan identitas khas. Persija Jakarta, dengan sejarah panjang, basis suporter besar, dan identitas kuat sebagai klub ibu kota, memiliki modal untuk menjadi “Como Indonesia”. Bandung mempunyai kreativitas dan sejarah sepak bola. Surabaya mempunyai keberanian dan basis suporter yang luar biasa. Yogyakarta memiliki budaya, pendidikan, dan pariwisata. Makassar merupakan gerbang Indonesia Timur. Malang, Solo, Bali, Medan, Palembang, dan kota-kota lainnya mempunyai kekuatan masing-masing.

Yang sering belum berhasil kita bangun adalah ekosistemnya.

Klub masih terlalu bergantung pada pemilik, sponsor, APBD pada masa lalu, atau pendapatan pertandingan. Stadion belum dikelola sebagai ruang ekonomi sepanjang tahun. Pembinaan usia muda belum menjadi bagian kuat dari rantai produksi pemain. Hubungan klub, pemerintah kota, UMKM, pariwisata, komunitas kreatif, transportasi, dan industri digital masih berjalan sendiri-sendiri.

Pos terkait