OPINI: Bukan Real Madrid, Bukan Milan: Dunia Kini Menoleh ke Como—dan Ada Indonesia di Baliknya

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Di depan publik internasional, peran Indonesia paling jelas terlihat pada Mirwan Suwarso. Eksekutif Indonesia asal Madiun tersebut menjadi wajah kepemimpinan Como dan kini menjabat sebagai presiden klub. Mirwan bukan sekadar mewakili pemilik, tetapi menerjemahkan visi investasi menjadi strategi bisnis, olahraga, komunikasi, dan hubungan dengan masyarakat.

Ini bagian yang sering kita lupakan di Indonesia. Kita terlalu mudah mengagumi besarnya investasi, tetapi kurang memberi perhatian kepada kualitas pengelolaannya. Padahal, investasi hanya menciptakan hasil apabila diikuti tata kelola, kepemimpinan, disiplin, dan konsistensi.

Klub, Kota, dan Ekosistem

Bacaan Lainnya

Pemilik Como sejak awal tidak ingin membangun klub yang hidup terpisah dari kotanya. Mereka melihat sepak bola sebagai pintu masuk menuju ekosistem yang lebih besar.

Danau Como telah lama dikenal sebagai salah satu tujuan wisata paling terkenal di dunia. Namun, selama bertahun-tahun, reputasi internasional Danau Como tidak sepenuhnya terhubung dengan klub sepak bolanya. Manajemen baru mencoba menyatukan kedua kekuatan tersebut.

Dalam wawancara dengan , Mirwan menjelaskan keinginan membangun model yang menyerupai ekosistem Disney. Pusatnya bukan hanya pertandingan sepak bola, melainkan danau, kota, identitas lokal, dan keseluruhan pengalaman Como. Karena itu, usaha klub diperluas ke pariwisata, media, fesyen, ritel, hospitalitas, kuliner, dan pengalaman pertandingan. ()

Orang datang tidak hanya untuk menonton 90 menit pertandingan. Mereka diajak menikmati kota, danau, kuliner, sejarah, produk lokal, serta atmosfer Stadion Giuseppe Sinigaglia yang berdiri tepat di tepi Danau Como.

Inilah pendekatan yang dalam pembangunan wilayah disebut place-based development: pembangunan yang bertumpu pada identitas, kekuatan, dan karakter khas suatu tempat. Como tidak berusaha menjadi tiruan Real Madrid atau AC Milan. Como justru menjadikan ke-“Como”-annya sebagai sumber nilai.

Klub menjadi bagian dari merek kota. Kota memperkuat merek klub. Pertandingan mendatangkan pengunjung. Pengunjung menghidupkan hotel, restoran, toko, transportasi, produk kreatif, dan usaha lokal. Nilai ekonomi tidak berhenti di stadion, tetapi menyebar ke seluruh kota.

Model bisnis ini memang masih membutuhkan investasi besar. Laporan Financial Times menunjukkan bahwa sampai Juni 2025, pendapatan Como sekitar €62 juta, sementara kerugian bersihnya mencapai €132 juta dan masih ditopang pemegang saham. Artinya, transformasi tersebut belum selesai dan keberlanjutan finansial tetap menjadi pekerjaan rumah. Namun, manajemen sedang membangun sumber pendapatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada menang-kalah di lapangan—mulai dari fesyen dan hospitalitas hingga pariwisata dan media.

Pos terkait