OPINI: Belajar dari Phu Quoc, Mengapa Vietnam Bisa Menjadi Kiblat Pariwisata Baru dan Apa yang Harus Dipelajari Indonesia?

Mohd Rizky, S.Kom., M.M. Alumnus Pascasarjana Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Risiko, Universitas Diponegoro.
Mohd Rizky, S.Kom., M.M. Alumnus Pascasarjana Magister Manajemen Konsentrasi Manajemen Risiko, Universitas Diponegoro.

Manajemen risiko bukan lagi soal membangun infrastruktur melainkan soal regulasi yang memaksa integrasi ekonomi masyarakat ke dalam rantai pasok ekosistem wisata.

Risiko keberlanjutan lingkungan yang mengubah pulau dari tempat yang minim listrik menjadi hub internasional memerlukan konsumsi energi dan air yang masif. Tanpa manajemen limbah dan pemanfaatan energi terbarukan yang serius, daya tarik utama pariwisata akan terdegradasi.

Membangun berarti perlu memperhitungkan biaya restorasi di masa depan, yang pada akhirnya akan menjadi beban fiskal negara saat ekosistem benar-benar runtuh.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Atasi Banjir, Wakil Ketua DPRD Batam Hendra Asman Ajak Semua Pihak 'Turun-Tangan'

Jadi dengan sinergi antara visi politik yang kuat dan partisipasi swasta yang agresif serta penerapan manajemen risiko, sebuah pulau yang dulunya terisolasi dapat melompat menjadi destinasi dunia. Apakah Indonesia siap melakukan lompatan serupa dengan tetap menjaga jati diri yang inklusif? Tantangannya bukan pada ketiadaan potensi, melainkan pada kemauan untuk menyelaraskan visi di atas segala dinamika yang ada. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *