IDNNEWS.CO.ID, BATAM — Setiap hari, ribuan orang melintasi gerbang utama Kota Batam. Ada yang datang membawa harapan investasi, ada yang berlibur menikmati pesona Kepulauan Riau, dan ada pula yang pulang setelah sekian lama merantau.
Selama bertahun-tahun, mereka disambut oleh nama besar Bandara Internasional Hang Nadim—sebuah nama yang akrab di telinga, namun kisah di baliknya belum sepenuhnya hadir dalam ruang kota.
Kini, narasi itu mulai diwujudkan dalam bentuk yang nyata.
Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam membangun Tugu Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda (YDM) V di kawasan gerbang menuju Bandara Internasional Hang Nadim.
Lebih dari sekadar monumen, tugu ini dirancang menjadi penanda identitas kota sekaligus pengingat bahwa Batam tumbuh di atas jejak sejarah, budaya Melayu, dan semangat membangun masa depan.
Di lokasi yang strategis, setiap kendaraan yang melintas akan berhadapan dengan sebuah karya arsitektur yang mengajak siapa pun berhenti sejenak, bukan untuk sekadar memandang bentuknya, tetapi memahami makna yang dibawanya.
Nama Hang Nadim selama ini begitu melekat sebagai identitas bandara terbesar di Kepulauan Riau. Namun bagi banyak orang, nama itu hanya sebatas penanda lokasi.
Melalui pembangunan monumen ini, kisah tentang keberanian, kecerdasan, dan visi tokoh legenda Melayu tersebut dihadirkan kembali sebagai inspirasi bagi masyarakat modern.
Dalam rancangan arsitekturnya, sosok tugu menjadi simbol kekuatan, harapan, dan keberanian menghadapi perubahan zaman. Nilai-nilai itu dipandang sejalan dengan karakter Batam yang tumbuh sebagai kota industri, perdagangan, investasi, sekaligus rumah bagi masyarakat dari berbagai latar belakang budaya.










