Mesin Transformasi Indonesia Harus Dinyalakan (5-Habis)

Ukuran akhirnya adalah produktivitas.

Indonesia perlu menempatkan Total Factor Productivity, produktivitas tenaga kerja, kemampuan teknologi, nilai tambah domestik, kualitas pekerjaan, produktivitas energi dan sumber daya, serta jumlah perusahaan yang berhasil naik kelas sebagai indikator utama transformasi.

Investasi asing, misalnya, tidak cukup dinilai dari nilai komitmen dan realisasinya. Harus diukur pula berapa banyak teknologi yang diserap, tenaga ahli Indonesia yang berkembang, kegiatan riset yang tercipta, pemasok lokal yang masuk ke dalam rantai produksi, serta nilai tambah yang bertahan di dalam negeri.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OJK dan Tantangan Menjaga Inovasi Keuangan Tetap Aman Lewat Regulatory Sandbox

Demikian pula pelatihan vokasi. Keberhasilannya bukan jumlah peserta atau sertifikat, melainkan tingkat penempatan kerja, peningkatan upah, produktivitas, dan relevansi kompetensi dengan kebutuhan industri.

Riset tidak cukup menghasilkan publikasi. Riset harus semakin mampu menghasilkan paten yang digunakan, prototipe yang diproduksi, perbaikan proses, perusahaan baru, atau solusi terhadap persoalan nasional.

Tidak semua hal yang mudah dihitung penting. Dan tidak semua hal yang penting mudah dihitung. Namun, kesulitan mengukur outcome tidak boleh menjadi alasan untuk terus merasa puas dengan jumlah kegiatan.

World Development Report 2024 menyebut strategi bagi negara berpendapatan menengah atas sebagai 3i: investment, infusion, dan innovation. Investasi harus disertai kemampuan menyerap teknologi, lalu berkembang menuju penciptaan inovasi sendiri.

BACA JUGA:  Rayakan HUT ke-81 RI, PLN Batam Beri Perlindungan Sosial hingga Penghargaan Petugas

Indonesia tidak cukup hanya menjadi tempat modal datang. Indonesia harus menjadi tempat kemampuan tumbuh.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *