Mesin Transformasi Indonesia Harus Dinyalakan (5-Habis)

Indonesia tidak perlu menyalin bentuk kelembagaan mereka. Namun, prinsipnya sama: satu outcome, satu pemilik hasil, dan satu sistem pertanggungjawaban.

Koordinasi selama ini sering dimaknai sebagai mempertemukan banyak lembaga. Padahal, semakin banyak pihak hadir belum tentu semakin jelas siapa yang bertanggung jawab.

Jika semua menjadi koordinator, siapa yang sebenarnya mengerjakan?

Bacaan Lainnya

Setiap prioritas pembangunan perlu memiliki pembagian kewenangan melalui RACI: siapa yang menjalankan, siapa yang bertanggung jawab akhir, siapa yang dikonsultasikan, dan siapa yang cukup memperoleh informasi. Pembiayaan, regulasi, ketersediaan lahan, kapasitas pelaksana, data, monitoring, serta risiko harus dibahas sejak awal—bukan ditemukan satu per satu setelah program berjalan.

BACA JUGA:  Kampanye di Baloi Permai, Rudi Ingin Pencapaian Kota Batam Jadi Modal untuk Pembangunan Kepri

Mesin pengantarannya perlu mengikuti satu rantai:

planning → prioritization → financing → execution → debottlenecking → production → outcome.

Bappenas dapat menjalankan peran sebagai National Development Orchestrator. Bukan menjadi super ministry yang mengambil alih tugas kementerian teknis, tetapi memastikan sasaran RPJPN, RPJMN, RKP, proyek strategis, kebijakan sektoral, pembiayaan, dan outcome serta dokumen perencanaan  pembangunan daerah menggunakan arah yang sama.

Kementerian Keuangan memastikan konsistensi pembiayaan dan kualitas belanja. Kementerian koordinator menyelesaikan hambatan lintas sektor. Kementerian teknis menjadi pemilik pelaksanaan. Pemerintah daerah menerjemahkan sasaran nasional sesuai karakter wilayah. Fungsi monitoring, evaluasi, dan manajemen risiko memverifikasi capaian, mendeteksi risiko, dan memberikan peringatan dini.

BACA JUGA:  OPINI : Ketika ‘Anak Kandung’ PWI Digebuk dan Penyusup Ilegal Dipeluk

Prioritas terbatas dapat dikawal melalui Growth and Transformation Delivery Room. Ini bukan lembaga baru, melainkan mekanisme kerja yang menyatukan data, keputusan, pembiayaan, dan penyelesaian hambatan.

Dashboard bersama dibutuhkan, tetapi dashboard bukan tujuan. Ia harus menunjukkan target yang menyimpang, penyebabnya, keputusan yang diperlukan, penanggung jawab, serta batas waktu penyelesaian.

Perbedaan antara meeting room dan delivery room sederhana. Meeting room menghasilkan kesepakatan untuk berkoordinasi kembali. Delivery room menghasilkan keputusan tentang siapa melakukan apa dan kapan harus selesai.

Menjadikan Produktivitas sebagai Ukuran Utama

Pelajaran ketiga adalah bahwa transformasi tidak cukup diukur dari banyaknya input dan kegiatan.

BACA JUGA:  OPINI: Mengurai Sengkarut Aturan Free Float: Mengapa Standar MSCI Harus Jadi Alarm bagi Regulator?

Pertumbuhan investasi penting. Realisasi anggaran penting. Jumlah proyek, pelatihan, kawasan industri, regulasi, dan perjanjian investasi juga penting. Namun, semua itu baru merupakan alat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *