Mengejar Pertumbuhan 6 Persen: Strateginya Ada, Tinggal Memastikan Mesinnya Bergerak (3-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo

SMK, politeknik, balai latihan kerja, program sertifikasi, pemagangan, pemerintah daerah, dan industri harus berada dalam satu peta kebutuhan tenaga kerja.

Indikator keberhasilannya pun tidak cukup hanya menghitung jumlah peserta pelatihan. Kita sudah cukup sering bangga melihat angka peserta yang besar.

Yang lebih penting adalah berapa yang tersertifikasi, berapa yang memperoleh pekerjaan, bagaimana produktivitas dan pendapatannya meningkat, serta berapa kebutuhan tenaga terampil industri yang dapat dipenuhi dari dalam negeri.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI : Cara Satgas PASTI Membaca UU P2SK demi Keadilan Masyarakat

Kalau investasi datang tetapi pekerjanya tidak tersedia, kita memperoleh modal tanpa produktivitas. Kalau pekerja dilatih tetapi industri yang menyerapnya tidak ada, kita memperoleh sertifikat tanpa pekerjaan.

Keduanya sama-sama kurang berguna.
Industrialisasi Harus Melampaui Hilirisasi
Strategi berikutnya adalah memastikan investasi menghasilkan industrialisasi yang semakin dalam, ekonomi semakin kompleks.

Hilirisasi tetap penting. Indonesia memang tidak seharusnya terus mengekspor bahan mentah dan membeli kembali produk jadinya dengan harga berkali lipat. Namun hilirisasi sebaiknya diperlakukan sebagai pintu masuk, bukan garis akhir.

Smelter adalah kemajuan jika sebelumnya kita hanya mengekspor bijih. Tetapi setelah smelter berdiri, pertanyaan berikutnya harus segera diajukan: setelah ini apa?

BACA JUGA:  Wartawan di Tanjungpinang Alami Kekerasan Saat Meliput, PWI Kepri 'Kutuk Keras'

Apakah produk tersebut masuk ke industri komponen, baterai, material maju, elektronik, mesin, atau kimia khusus? Atau akhirnya tetap dikirim ke luar negeri sebagai bahan antara?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *