Mengejar Pertumbuhan 6 Persen: Strateginya Ada, Tinggal Memastikan Mesinnya Bergerak (3-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo

Setelah itu, hambatannya diselesaikan satu per satu: akses jalan, pelabuhan, listrik, gas, air baku, pengolahan limbah, digital connectivity, tata ruang, dan perizinan.

Lebih baik beberapa kawasan benar-benar hidup daripada banyak kawasan terus disebut strategis sementara investornya tetap menunggu.

Produktivitas Tidak Boleh Menjadi Anak Tiri
Investasi saja tidak cukup. Indonesia juga membutuhkan peningkatan produktivitas yang cukup besar. Bahkan di sinilah tantangan yang mungkin lebih sulit.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OPINI : Dari Job Hugging ke Job Loving: Ini Cara Biar Karier Tetap 'Moncer'

Pabrik dapat dibangun dalam beberapa tahun. Tetapi meningkatkan produktivitas tenaga kerja, kualitas manajemen, teknologi, institusi, dan efisiensi membutuhkan kerja yang jauh lebih sistematis.

Salah satu upaya yang dapat menghasilkan dampak relatif cepat adalah memperbesar dan meningkatkan kualitas pendidikan vokasi serta memperluas program reskilling dan upskilling.

Kebutuhan keterampilan seharusnya tidak lagi direncanakan terpisah dari investasi. Jika sebuah kawasan akan menerima investasi elektronik, kita seharusnya sudah mengetahui teknisi seperti apa yang diperlukan.

Jika industri baterai berkembang, kebutuhan operator, teknisi listrik, kimia, maintenance, dan digital control dapat diperkirakan. Jika investasi pariwisata masuk ke suatu wilayah, profil keterampilannya tentu berbeda lagi.

BACA JUGA:  Bandara Hang Nadim Catat 127 Ribu Penumpang di Periode Nataru, Kargo Turun Ikuti Pola Tahunan

Karena itu, prinsipnya seharusnya sederhana: setiap investment pipeline harus memiliki skills pipeline.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *