Menelusuri Jejak Kesultanan Riau-Lingga di Museum Linggam Cahaya, Simpan 6.800 Koleksi Bersejarah

Sejarah yang Dijaga Bersama

Bagi Daik, sejarah Kesultanan Riau-Lingga bukan sekadar cerita yang tercatat dalam buku.

Jejaknya masih dapat ditemukan melalui manuskrip, silsilah, benda budaya dan berbagai peninggalan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bacaan Lainnya

Museum Linggam Cahaya menjadi salah satu tempat untuk mempertemukan berbagai jejak tersebut.

BACA JUGA:  Komunitas Jurnalis Kepri Buka Pendaftaran UKW Gratis, Bidik Lima Kelas Peserta. Ini Cara Daftarnya

Menariknya, sebagian perjalanan pelestarian itu berlangsung melalui tangan masyarakat sendiri. Hibah benda bersejarah menunjukkan bahwa menjaga warisan budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pengelola museum.

Ada warga yang memilih menyerahkan benda peninggalan keluarga agar tidak berhenti menjadi barang lama di rumah. Benda tersebut kemudian memperoleh kehidupan baru sebagai sumber pengetahuan bagi publik.

Di titik inilah museum tidak sekadar berfungsi sebagai tempat penyimpanan.

Museum menjadi ruang untuk mengingat.

Keramik menjadi bagian dari cerita perdagangan dan kehidupan masa lalu. Mata uang membawa pengunjung pada perjalanan ekonomi. Manuskrip membuka pengetahuan tentang agama, hukum, pengobatan dan sastra. Silsilah menghubungkan generasi dengan sejarah kesultanan.

BACA JUGA:  1.000 Warga Padati Maulid Nabi di Rempang Eco City: Antara Toleransi dan Persaudaraan

Sementara itu, benda seperti tulang Gajah Mina menghadirkan cerita lain yang menambah kekayaan koleksi Pulau Daik.

Di tengah perubahan zaman, Museum Linggam Cahaya menjadi salah satu ruang yang menjaga agar cerita-cerita tersebut tidak terputus.

Bagi wisatawan maupun masyarakat yang berkunjung ke Lingga, museum ini dapat menjadi titik awal untuk mengenal Daik lebih jauh—bukan hanya sebagai sebuah kawasan di Kepulauan Riau, tetapi sebagai wilayah yang menyimpan jejak panjang Kesultanan Riau-Lingga dan kekayaan budaya Melayu.

Sebab, perjalanan memahami sebuah daerah terkadang tidak harus dimulai dari jalan raya atau destinasi wisata populer.

Di Daik, perjalanan itu bisa dimulai dari sebuah museum, dari sebuah manuskrip tua, dari tulisan tangan yang dibuat berabad-abad lalu, atau dari benda sederhana yang diselamatkan masyarakat dari perjalanan waktu.

BACA JUGA:  Indosat Gelar IDCamp Connect 2025 di Universitas Riau

Di sanalah sejarah menemukan cara untuk tetap hidup.(Iman Suryanto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *