Menelusuri Jejak Kesultanan Riau-Lingga di Museum Linggam Cahaya, Simpan 6.800 Koleksi Bersejarah

“Di Daik Lingga ini, sebagai bekas pusat Kesultanan Riau-Lingga, banyak ditemukan kitab-kitab bersejarah. Koleksi naskah di museum ini didominasi oleh ajaran agama Islam, tetapi ada juga naskah tentang sejarah, hukum, dan pengobatan tradisional,” ujar Lazuardy.

Keberadaan manuskrip tersebut membuat museum seolah menjadi pintu untuk melihat bagaimana masyarakat masa lalu mencatat pengetahuan mereka.

Tulisan tangan yang kini menjadi benda koleksi itu pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia menjadi media untuk menyampaikan ajaran agama, mencatat hukum, menyimpan pengetahuan pengobatan, sekaligus mewariskan pemikiran dan kebudayaan.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Anugerah Kehumasan 2025, Bawaslu Kepri Tekankan Pentingnya Kepercayaan Publik

Di antara koleksi tersebut terdapat pula silsilah Kesultanan Riau-Lingga, kitab-kitab kuno dan Al-Qur’an tulisan tangan yang memiliki nilai sejarah tersendiri.

Kisah Tulang Gajah Mina

Museum Linggam Cahaya juga menyimpan koleksi yang tidak kalah menarik: tulang Gajah Mina.

Benda tersebut ditemukan dalam kondisi hanyut di salah satu pantai di Pulau Daik sekitar 2004, setelah terjadinya tsunami Aceh.

Kini, fosil tulang tersebut menjadi salah satu benda yang dipamerkan di museum.

Keberadaannya menambah warna pada koleksi Museum Linggam Cahaya. Jika manuskrip dan peninggalan kesultanan membawa pengunjung pada perjalanan sejarah dan kebudayaan manusia, tulang Gajah Mina menghadirkan sisi lain dari cerita masa lalu yang tersimpan di Pulau Daik.

BACA JUGA:  Bantah Isu Ratusan Buaya Lepas, BBKSDA Riau Sebut Tidak Mencapai Ratusan Ekor

Setiap benda pada akhirnya memiliki konteks dan cerita masing-masing.

Dari Museum Mini hingga Menyimpan Ribuan Koleksi

Perjalanan Museum Linggam Cahaya sendiri telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Pembangunan museum dimulai pada 2002 dan rampung setahun kemudian. Pada 2003, museum yang ketika itu masih dikenal sebagai Museum Mini Linggam Cahaya mulai menerima kunjungan secara terbatas.

Seiring waktu, kebutuhan ruang untuk menyimpan dan memamerkan koleksi semakin besar.

Pada 2015, museum mulai menempati gedung yang lebih besar.

“Tahun 2002 mulai pembangunan, tahun 2003 kita mulai menerima kunjungan sementara di Museum Linggam Cahaya. Dulu masih berupa museum mini, lalu pada tahun 2015 kita mulai menempati gedung museum yang lebih besar,” kata Lazuardy.

BACA JUGA:  Tekan Pengangguran, Wali Kota Batam Buka Pelatihan TJSL InJourney Aviation Services

Perpindahan tersebut membuat pengelolaan dan penyajian koleksi menjadi lebih leluasa. Kini, sekitar 6.800 item tersimpan di Museum Linggam Cahaya, mencakup berbagai benda dari masa lalu hingga koleksi yang merekam perkembangan kehidupan masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *