Menelusuri Jejak Kesultanan Riau-Lingga di Museum Linggam Cahaya, Simpan 6.800 Koleksi Bersejarah

IDNNEWS.CO.ID, DAIK — Sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau prasasti yang berdiri kokoh. Di Pulau Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, jejak masa lalu justru tersimpan dalam benda-benda yang mungkin sekilas tampak sederhana.

Keramik tua, mata uang kuno, manuskrip, kitab keagamaan, naskah hukum, hingga Al-Qur’an tulisan tangan menjadi bagian dari cerita panjang sebuah wilayah yang pernah menjadi pusat Kesultanan Riau-Lingga.

Semua itu dapat ditelusuri di Museum Linggam Cahaya, Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  OJK Perkuat Ekonomi Daerah, Program PED Sudah Menjangkau 40 Kabupaten dan Kota

Museum ini menyimpan sekitar 6.800 koleksi yang merekam perjalanan sejarah, kebudayaan Melayu, kehidupan masyarakat, sekaligus perkembangan teknologi dari masa ke masa.

Namun, ada satu hal yang membuat museum ini terasa berbeda. Sebagian besar benda yang berada di balik kaca-kaca ruang pamer bukan semata-mata dikumpulkan oleh pemerintah. Banyak di antaranya berasal dari masyarakat yang dengan sukarela menyerahkan benda bersejarah milik mereka untuk dirawat dan dipelajari bersama.

Staf Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardy, mengatakan sebagian besar koleksi Museum Linggam Cahaya berasal dari hibah masyarakat yang dihimpun melalui program Gerakan Sayang Budaya.

“Koleksi pada Museum Linggam Cahaya itu sebagian besar merupakan hibah masyarakat,” kata Lazuardy.

BACA JUGA:  Otoritas Jasa Keuangan Raih Penghargaan dari Bareskrim Polri atas Kinerja Penegakan Hukum

Dari tangan masyarakat itulah potongan-potongan masa lalu Lingga dikumpulkan. Benda yang sebelumnya mungkin tersimpan di rumah warga, kemudian menjadi bagian dari cerita sejarah yang dapat dilihat oleh generasi berikutnya.

Ketika Benda Lama Menjadi Penanda Sejarah

Museum Linggam Cahaya tidak hanya menyimpan satu jenis benda.

Koleksinya terbagi dalam sejumlah bidang, antara lain keramologi yang berkaitan dengan keramik, numismatika atau mata uang, heraldika berupa lambang dan tanda jasa, etnografi yang menggambarkan kehidupan masyarakat, hingga filologi yang berkaitan dengan manuskrip dan naskah kuno.

Ada pula koleksi yang menggambarkan perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat dari masa ke masa.

BACA JUGA:  Pertamina Patra Niaga Hadirkan Edukasi Sampah dan Vertikultur Plus di Medan dan Batam, Wujudkan Generasi Hijau Indonesia

Di antara ribuan koleksi tersebut, manuskrip kuno menjadi salah satu bagian yang memiliki nilai sejarah penting.

Naskah-naskah itu bukan hanya berbicara tentang agama. Sebagian di antaranya merekam pengetahuan yang berkembang di tengah masyarakat pada masa lalu, mulai dari hukum, pengobatan tradisional, sejarah hingga sastra.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *