Literasi Keuangan Syariah Capai 43,07%, tetapi Inklusi Baru 13,4%, OJK Ungkap Tantangannya

IDNNEWS.CO.ID, JAKARTA – Industri keuangan syariah Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar dalam memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat. Meski tingkat literasi keuangan syariah telah mencapai 43,07%, tingkat inklusinya justru baru menyentuh 13,4%.

Data hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut menunjukkan adanya kesenjangan cukup lebar antara pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah dan pemanfaatan produk maupun layanannya.

Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan industri keuangan syariah nasional. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang memiliki potensi pasar sangat besar.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Pastikan Kenyamanan Umat Kristiani saat Malam Natal, Amsakar-Li Claudia dan Aparat Tinjau Gereja di Kota Batam

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, peningkatan literasi belum otomatis mendorong masyarakat menggunakan produk keuangan syariah. Salah satu persoalan yang harus segera dibenahi adalah keterbatasan akses terhadap layanan keuangan syariah.

“Untuk bank-bank syariah terus kita dorong supaya dia bisa meningkatkan aksesibilitas kepada masyarakat,” ujar Friderica yang akrab disapa Kiki dalam acara Syariah Financial Fair (SYAFIF) di Makassar, Minggu (1/11/2026).

Menurut Kiki, industri perbankan dan keuangan syariah perlu memperluas akses sekaligus memperkuat inovasi produk agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Tidak cukup hanya menawarkan produk dengan prinsip syariah, pelaku industri juga harus mampu menghadirkan layanan yang kompetitif, mudah dijangkau, dan memiliki nilai tambah bagi konsumen.

BACA JUGA:  March of the Mods 2026 Jadi Panggung Kebersamaan Komunitas Vespa di Batam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *