Ketika Modal Menjadi Pemilih (2-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Keempat, posisi strategis dalam rantai pasok Asia.

Namun, semua itu baru merupakan potensi.

Potensi adalah sumber daya yang belum bekerja.

Bacaan Lainnya

Agar menjadi investasi, potensi harus diterjemahkan menjadi proyek yang memiliki lokasi jelas, lahan siap, izin tersedia, kebutuhan infrastruktur terukur, proyeksi permintaan masuk akal, struktur pembiayaan jelas, dan pembagian risiko yang dapat diterima.

BACA JUGA:  OJK dan Polda Kaltara Bongkar Kredit Bermasalah Bankaltimtara, Jaga Kepercayaan Ekonomi Daerah

Data investasi tidak boleh hanya menunjukkan berapa rupiah yang masuk. Pemerintah juga harus mengetahui investasi tersebut menciptakan apa: teknologi, ekspor, lapangan kerja berkualitas, keterkaitan dengan UMKM, produktivitas, atau hanya meningkatkan impor barang modal.

Kementerian Investasi telah menyediakan data realisasi investasi triwulan II-2026. Tahap berikutnya adalah menghubungkan data tersebut dengan kualitas proyek, produktivitas, penciptaan kerja, dan dampak wilayah.

Indonesia tidak kekurangan daftar proyek.

Yang sering kurang adalah proyek yang benar-benar siap dibiayai.

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Pertama, menjaga kredibilitas kebijakan makro.

Kebijakan fiskal harus transparan. Kebijakan moneter harus tetap kredibel dan profesional. Koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia penting, tetapi koordinasi tidak boleh menimbulkan keraguan terhadap independensi bank sentral. Investor dapat menerima kebijakan yang ketat. Mereka lebih sulit menerima kebijakan yang tidak dapat diperkirakan.

BACA JUGA:  OPINI: Membangun Kembali Kontrak Sosial Indonesia

Kedua, menurunkan risiko nonkeuangan.

Perizinan, kepastian lahan, konektivitas, listrik, air, kepastian kontrak, dan penyelesaian sengketa sering lebih menentukan daripada insentif pajak. Jika risiko tersebut dapat diturunkan, pemerintah tidak perlu terus membayar investor melalui insentif.

Ketiga, memperluas pembiayaan rupiah berjangka panjang dan instrumen lindung nilai.

Proyek domestik yang berpendapatan rupiah sebaiknya tidak dipaksa bergantung pada utang dolar. Pasar obligasi korporasi, sekuritisasi, penjaminan proyek, blended finance, dan hedging perlu dibuat lebih mudah diakses.

Keempat, membangun Commodity Balance Sheet Nasional.

Kenaikan komoditas harus dibaca secara menyeluruh: produksi, ekspor, impor, konsumsi domestik, stok, harga, devisa, pajak, royalti, subsidi, serta dampaknya terhadap inflasi.

BACA JUGA:  Respon Aduan Masyarakat, OJK Panggil Manajemen Rupiah Cepat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *