Ketika Modal Menjadi Pemilih (2-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Mereka justru terbiasa mengelola risiko.

Yang mereka hindari adalah risiko yang tidak dapat dihitung.

Kenaikan bunga global akan meningkatkan weighted average cost of capital atau biaya rata-rata modal. Proyek yang sebelumnya layak pada biaya modal 7 persen dapat menjadi tidak layak ketika biaya modal naik menjadi 10 persen.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, investor besar akan lebih selektif.

Mereka akan memilih proyek yang memiliki arus pendapatan jelas, kepastian pasokan energi, kontrak jangka panjang, perlindungan nilai tukar, dan aturan yang tidak berubah di tengah jalan.

BACA JUGA:  Menangkal Disinformasi Perbatasan: Membedah Tiga Gagasan Taktis Irjen Pol Andry Wibowo

Investasi smelter, kawasan industri, pusat data, energi terbarukan, infrastruktur, atau industri kimia membutuhkan modal besar dan waktu pengembalian yang panjang. Investor tidak hanya menghitung biaya pembangunan. Mereka juga menghitung risiko tanah, listrik, air, pelabuhan, perizinan, kandungan lokal, pajak, tenaga kerja, dan perubahan kebijakan.

Karena itu, insentif fiskal saja tidak cukup.

Investor mungkin tertarik oleh tax holiday, tetapi mereka akan mundur jika listrik tidak pasti, pelabuhan mahal, izin berulang, atau keputusan pusat berbeda dengan keputusan daerah.

Investor besar juga akan semakin menuntut mekanisme hedging. Pendapatan proyek mungkin dalam rupiah, tetapi pinjaman dan barang modalnya dalam dolar. Ketika rupiah melemah, beban utang meningkat meskipun proyek beroperasi dengan baik. Ini dikenal sebagai currency mismatch.

BACA JUGA:  OPINI: Sahabat Pena, Ketika Perangko Menjadi Jembatan Hati

Bagi investor besar, Indonesia tetap menawarkan peluang besar pada sektor hilirisasi, mineral kritis, pangan, logistik, energi, ekonomi digital, pusat data, kesehatan, dan infrastruktur.

Namun, mereka akan memilih proyek, bukan sekadar negara.

Mereka akan masuk ketika proyeknya siap, risikonya terbagi dengan jelas, dan keputusan pemerintah dapat dipercaya.

Investor Menengah: Terjepit di Antara Bunga, Kurs, dan Arus Kas

Investor menengah menghadapi persoalan yang berbeda.

Mereka tidak memiliki neraca sebesar perusahaan multinasional. Namun, mereka juga tidak cukup kecil untuk bergerak tanpa pembiayaan formal.

Kelompok ini mencakup perusahaan nasional menengah, pemasok kawasan industri, perusahaan keluarga, pengembang regional, perusahaan logistik, eksportir, kontraktor, serta dana investasi swasta berskala menengah.

BACA JUGA:  30 Tahun Menanti, Akhirnya Raih Gelar Wartawan Utama: Kisah Perjuangan yang Tak Kenal Kata Terlambat

Bagi mereka, persoalan utama bukan sekadar valuasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *