Oleh: Ady Indra Pawennari
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri
IDNNEWS.CO.ID, Waktu tidak pernah berjalan mundur, namun ia selalu memberi ruang bagi jiwa-jiwa yang menolak menyerah.“Tak ada kata terlambat.” Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata yang kerap saya bisikkan demi membakar semangat para pewarta muda di bawah langit Dewan Pers.
Jauh di lubuk hati yang paling dalam, kalimat itu adalah bait mantra yang saya rapalkan untuk diri saya sendiri. Sebuah janji setia bahwa setiap tetes keringat di jalan sunyi ini akan menemukan muaranya.
Langkah kaki saya menjemput legitimasi ini memang harus berkejaran dengan senja. Ketika riak pemberlakuan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) pertama kali bergulir antara tahun 2011 hingga 2018, sebuah karpet merah terbentang bagi para peracik berita senior.
Kami dipersilakan melompat langsung memeluk jenjang kompetensi wartawan Utama, tanpa harus merangkak membelah anak tangga wartawan Muda dan Madya. Namun, angin waktu membawa saya berlayar ke arah lain. Momentum emas itu terlepas, menyisakan sesal yang tersimpan rapi.
Hingga pada tahun 2019, di bawah langit Kota Kembang, Bandung, saya memantapkan langkah menuju UKW yang digelar PWI Jawa Barat. Namun, takdir rupanya ingin menguji keteguhan hati saya.
Regulasi telah berganti rupa. Karpet merah itu telah digulung rapat-rapat. Saya yang telah menghabiskan 23 tahun usia menua bersama pekatnya tinta dan tajamnya pena, harus rela berdiri di garis awal yang sama dengan mereka yang baru saja belajar mengeja berita. Saya harus memulai dari jenjang Muda.
Ada rasa getir yang menyelinap di dada, namun ada api pembuktian yang menolak padam. Di kota penuh kenangan itu, dengan rambut yang mulai bersulam perak, saya menundukkan kepala, memeras seluruh sari-sari pengalaman yang telah puluhan tahun saya pupuk.
Tuhan maha menyaksikan. Sore itu, saya pulang tidak hanya membawa kelulusan dan dinyatakan kompeten, tetapi juga predikat sebagai peserta terbaik. Jejak itu berlanjut. Lima tahun berselang, di bawah garis cakrawala Batam tahun 2024, takdir kembali meloloskan saya di jenjang Madya. Saya dinyatakan kompeten.
Namun, puncak gunung batu itu masih jauh. Aturan memaksa saya bersabar menanti jeda dua tahun untuk bisa mengetuk gerbang tertinggi: Wartawan Utama.
Peluang itu sejatinya sempat membayang di depan mata, di tanah Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 24 – 25 Mei 2026. Lembar administrasi telah rapi, mahar pendaftaran telah tunai.
Tapi hidup selalu punya cara rahasia untuk menguji prioritas kita. Sebuah panggilan bisnis lintas negara datang menghampiri. Dua kepentingan besar berdiri sejajar, memaksa saya memilih.
Dengan hati yang remuk oleh keikhlasan, saya memilih menepi. Mimpi UKW jenjang Utama bersama PWI Sulawesi Selatan di Makassar harus rela layu sebelum berkembang.











