Aroma pandan yang lembut berpadu dengan kopi yang pekat dan creamy. Satu balang kopi dapat dinikmati bersama, ditemani roti bakar Mak Yam yang renyah. Di sana, secangkir kopi bukan sekadar minuman, tetapi alasan untuk duduk lebih lama, berbincang lebih pelan dan menikmati malam Daik yang tenang.
Berkunjung ke Daik Lingga pada akhirnya bukan sekadar liburan. Ia adalah perjalanan menyusuri ingatan. Kita datang untuk melihat air terjun, tetapi pulang membawa cerita tentang hutan. Kita datang untuk melihat gunung, tetapi pulang membawa legenda.
Kita datang untuk menyaksikan reruntuhan istana, tetapi pulang dengan kesadaran bahwa pernah ada sebuah kerajaan Melayu yang menjadikan tanah ini sebagai pusat kekuasaan dan kebudayaan. Kita datang sebagai wisatawan, tetapi perlahan merasa seperti anak cucu yang sedang kembali mengetuk pintu rumah leluhur.
Daik adalah negeri yang tidak perlu berteriak untuk menunjukkan keindahannya. Ia cukup membiarkan Gunung Daik berdiri dalam diam, membiarkan air Resun mengalir, membiarkan kabut turun di lereng-lereng tua, dan membiarkan reruntuhan Istana Damnah berbicara kepada mereka yang mau mendengarkan.
Maka, sebelum jejak sejarahnya semakin samar dan sebelum kisah-kisah leluhur hanya tinggal cerita yang tersimpan dalam buku, luangkanlah waktu untuk datang ke Negeri Para Sultan ini. Datanglah bukan hanya untuk berfoto, tetapi untuk membaca alam, menyentuh sejarah, mendengar legenda dan merasakan denyut kebudayaan Melayu yang masih hidup.
Kemasi ransel, siapkan perjalanan, dan menyeberanglah menuju Lingga. Dari Batam atau Tanjungpinang, perjalanan menuju Daik memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Tetapi mungkin justru itulah harga yang harus dibayar untuk menemukan sebuah negeri yang belum kehilangan kesunyiannya.
Sebab ada tempat-tempat yang memang tidak diciptakan untuk sekadar dikunjungi. Ada tempat yang harus dirasakan. Ada tanah yang harus didatangi dengan hati. Dan Daik Lingga adalah salah satunya.










