Kembara Daik Lingga : Antara Mitos Gunung Daik dan Khazanah Sejarah

Sebaliknya, perubahan itu menambah lapisan cerita pada dirinya. Ada sejarah geologi, ada legenda, ada mitos, ada ingatan leluhur, dan ada perjalanan waktu yang semuanya bertemu pada tubuh gunung yang sama.

Bagi pencinta petualangan, mendaki atau menjelajahi kawasan Gunung Daik bukan sekadar perjalanan menuju ketinggian. Ia adalah perjalanan memasuki halaman panjang sebuah cerita. Di bawah rimbun pepohonan, di antara akar-akar yang mencengkeram tanah dan bebatuan tua yang diselimuti lumut, kita seperti sedang berjalan mengikuti jejak orang-orang yang jauh lebih dahulu mengenal gunung ini.

Dan ketika pandangan akhirnya terbuka ke bentang Daik dari ketinggian, kita akan memahami mengapa gunung ini begitu sulit dipisahkan dari jiwa Lingga.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Perjalanan Logistik Surat Suara Pilkada Terus Dipantau Bawaslu Kepri

Setelah puas berkembara, saatnya memanjakan lidah dengan kuliner khas. Di jalan-jalan Daik, kita mungkin akan disapa dengan ungkapan Melayu yang sederhana, “Ikak nak ke mane?” yang berarti, “Kalian mau ke mana?” Sapaan itu mungkin terdengar biasa, tetapi justru dari kalimat-kalimat sederhana semacam itulah keramahan sebuah negeri terasa.

Cicipilah Bubur Lambok, bubur rempah gurih yang biasa hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat dan bulan Ramadan. Jangan lupa mencicipi aneka olahan sagu, termasuk lempeng sagu atau makanan tradisional berbahan sagu yang telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat Lingga. Sagu bukan sekadar makanan.

BACA JUGA:  Ini Dia Maskot Resmi Pilkada di Kepri Bernama Rami dan Kesi

Ia adalah bagian dari sejarah kehidupan masyarakat kepulauan yang sejak dahulu belajar bertahan dan hidup berdampingan dengan alam. Dalam setiap suapan ada rasa rempah, kesederhanaan dan jejak budaya yang diwariskan dari dapur-dapur Melayu.

Sebelum beristirahat menuju homestay yang nyaman, singgahlah ke Kedai Kopi Balang di Jalan Datuk Laksamana, Kampung Bugis, Daik. Kedai kopi dengan konsep cita rasa tempo dulu ini menawarkan pengalaman yang sederhana tetapi menarik. Kopi dimasak langsung di dalam panci bersama krimer, kemudian dituangkan ke dalam botol kaca atau balang bersama selembar daun pandan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *