Untuk suasana keluarga, ada Lubuk Muncung dan Air Terjun Tanda yang menawarkan ketenangan untuk berenang dan bermain air, sementara Sungai Kim di Desa Wisata Resun memberikan pengalaman berbeda bagi mereka yang ingin berkemah di tepi sungai yang jernih.
Alam Daik tidak datang dengan kemewahan yang dibuat-buat. Ia menawarkan sesuatu yang justru semakin langka: kesunyian, kesejukan, dan kesempatan untuk mendengar kembali suara alam yang sering hilang ditelan kebisingan kota.
Namun Daik bukan hanya tentang air, hutan dan gunung. Di balik hijaunya alam, tersimpan jejak sebuah kerajaan besar yang pernah menjadikan wilayah ini sebagai pusat kekuasaan Melayu. Pada akhir abad ke-18, Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang ke Lingga.
Daik kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan kerajaan selama lebih dari satu abad, sebelum kesultanan itu akhirnya dihapuskan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
Warisan itu masih dapat kita sapa di Kompleks Situs Istana Damnah. Reruntuhan yang tersisa mungkin tidak lagi memperlihatkan kemegahan sebagaimana pada masa kejayaannya, tetapi justru di sanalah daya pikat sejarah itu terasa.
Batu-batu, tanah, pepohonan dan sisa-sisa bangunan seperti menyimpan gema suara para pembesar, langkah para pengawal, percakapan para bangsawan dan denyut kehidupan sebuah pusat pemerintahan Melayu yang pernah disegani.
Tak jauh dari sana terdapat makam para sultan dan kerabat kerajaan di kawasan perbukitan yang dikenal masyarakat sebagai Bukit Cengkeh. Suasananya tenang, teduh dan menyimpan kesan magis. Berziarah ke tempat itu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Seolah-olah kita sedang mengetuk pintu rumah leluhur, lalu duduk sejenak untuk mengingat dari mana kita berasal. Di tempat seperti ini sejarah tidak lagi terasa sebagai tanggal dan nama yang tercetak dalam buku, tetapi sebagai sesuatu yang dekat, manusiawi dan menyentuh perasaan.
Di sana juga, berdiri Masjid Jami Sultan Lingga, salah satu warisan penting sejarah Islam dan kebudayaan Melayu di Lingga. Masjid yang dibangun pada awal abad ke-20 itu memperlihatkan kuatnya hubungan antara kerajaan, Islam dan kebudayaan Melayu.










