Pelajarannya bukan bahwa negara harus miskin sumber daya agar maju. Pelajarannya adalah bahwa sumber daya alam hanya menjadi kekayaan apabila dapat diubah menjadi kemampuan produktif.
Tanpa kemampuan tersebut, sumber daya alam hanya akan digali, dijual, dan pada waktunya habis. Ekspor mungkin meningkat, tetapi teknologi tetap dibeli. Devisa masuk, tetapi kemampuan tidak selalu tinggal.
Tenaga kerja belum tentu modal manusia
Teori modal manusia yang dikembangkan antara lain oleh Theodore Schultz dan Gary Becker menempatkan pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan pengalaman sebagai investasi. Teori pertumbuhan endogen kemudian memperkuat peran pengetahuan, inovasi, dan pembelajaran sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang.
Namun, memiliki banyak penduduk usia kerja tidak sama dengan memiliki modal manusia.
Tenaga kerja adalah jumlah orang yang tersedia untuk bekerja. Modal manusia adalah kemampuan yang melekat pada mereka untuk memecahkan masalah, menggunakan teknologi, belajar, beradaptasi, bekerja sama, dan menciptakan sesuatu yang bernilai.
Perbedaannya sangat mendasar.
Tenaga kerja dapat mengoperasikan mesin dengan instruksi. Modal manusia dapat memperbaiki, mengadaptasi, dan akhirnya merancang mesin tersebut. Tenaga kerja dapat mengikuti prosedur. Modal manusia dapat menemukan prosedur yang lebih baik.
Karena itu, bonus demografi tidak cukup dihitung dari banyaknya penduduk usia produktif. Bonus baru tercipta apabila penduduk tersebut sehat, terdidik, memiliki keterampilan yang relevan, memperoleh pekerjaan produktif, dan bekerja dalam perusahaan yang mampu naik kelas.
Bonus demografi bukan kupon hadiah yang otomatis dapat dicairkan. Ia lebih menyerupai tiket yang memiliki tanggal kedaluwarsa.











