ISEI melihat potensi pariwisata Lingga harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi ekonomi daerah yang lebih luas.
Pengembangan destinasi wisata tidak hanya berbicara mengenai peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Di baliknya terdapat peluang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat UMKM, membuka pasar produk lokal dan mendorong masuknya investasi.
Namun, seluruh rantai ekonomi tersebut baru dapat berkembang apabila persoalan fundamental diselesaikan.
“Kita harus sama-sama memikirkan ini kalau mau mengangkat potensi yang besar. Investor banyak melihat potensi di kepulauan ini, tetapi kalau problem dasar belum diselesaikan, tentu sulit untuk mengembangkannya,” kata Suyono.
Ia menegaskan bahwa Lingga memiliki modal alam dan budaya yang kuat. Tantangannya kini adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi aktivitas ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, Bank Indonesia, ISEI, pelaku usaha dan masyarakat.
Dengan keterbatasan anggaran daerah, skema kemitraan dan investasi menjadi semakin penting. Pemerintah dapat fokus pada pembangunan infrastruktur dasar dan penyelesaian aspek regulasi, sementara sektor swasta dapat mengambil peran dalam pengembangan fasilitas komersial dan destinasi.
“Jadi kembali lagi, harus ditentukan mana yang menjadi prioritas. Program mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diselesaikan lebih dulu,” ujarnya.
Menurut Suyono, pendekatan tersebut penting agar pengembangan pariwisata Lingga tidak berhenti pada promosi, tetapi benar-benar menghasilkan perputaran ekonomi baru.










