Mengenal Uang KR, Mata Khusus Kepulauan Riau Tahun 1964 yang Bisa Melipat Sendiri di Museum Linggam Cahaya

IDNNEWS.CO.ID, LINGGA — Jika berkesempatan melangkah ke Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, menyambangi Museum Linggam Cahaya di Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, adalah agenda wajib bagi para pecinta wisata sejarah dan numismatik.

Di museum ini, pengunjung dapat menyaksikan langsung koleksi langka berupa uang kertas kuno yang memiliki cerita transisi ekonomi serta keunikan fisiknya yang menakjubkan.

​Koleksi tersebut adalah Rupiah Kepulauan Riau atau yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai uang SKR / KR (Surat Keputusan Riau / Kepulauan Riau).

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  BP Batam Tebar Kepedulian, Daging Kurban 33 Hewan Disalurkan kepada Masyarakat

Mata uang ini diterbitkan pada tahun 1964 dan pernah menjadi alat pembayaran sah di wilayah Kepulauan Riau selama kurun waktu 3 hingga 4 tahun.

​Pemandu wisata Museum Linggam Cahaya, Lazuardi, menjelaskan bahwa kehadiran uang KR merupakan bagian penting dari sejarah monetisasi Indonesia di daerah perbatasan.

​”Dahulu sebelum uang ini berlaku, masyarakat di sini menggunakan Dolar dan Ringgit. Lalu dalam proses bertransisi menuju mata uang nasional, diterbitkanlah uang KR ini untuk wilayah Kepulauan Riau. Setelah beberapa tahun digunakan, barulah Rupiah nasional berlaku secara penuh di seluruh wilayah Indonesia hingga saat ini,” ujar Lazuardi saat menunjukkan koleksi uang kuno tersebut.

BACA JUGA:  Menang Tanpa Euforia, Kalah Tanpa Drama: Belajar Menjadi Juara dalam Kehidupan

​Uang kertas pecahan 500 hingga 1.000 Rupiah terbitan tahun 1964 bergambar Presiden Soekarno ini tidak hanya memiliki nilai historis yang tinggi, tetapi juga daya tarik visual yang unik.

​Saat diperlihatkan kepada pengunjung, Lazuardi meletakkan uang kertas KR tersebut di atas telapak tangan telanjang.

Secara perlahan dan menakjubkan, lembaran uang kertas tersebut mulai bereaksi terhadap suhu atau kelembapan tubuh dengan mengencang dan melipat sendiri ke arah atas.

​”Bukan sulap, bukan sihir. Saya tidak pandai bersulap,” seloroh Lazuardi sambil tersenyum menyaksikan helai uang kertas kuno itu melengkung alami di tangan pengunjung.

​Keunikan fisik inilah yang membuat lembaran uang KR di Museum Linggam Cahaya menjadi salah satu daya tarik utama bagi para wisatawan maupun pencinta barang antik.

BACA JUGA:  Satgas PASTI Tutup 13 Ribu Entitas Ilegal, Kerugian Publik Tembus Rp142 Triliun

​Saat ini, Museum Linggam Cahaya menyimpan sekitar 4 hingga 5 lembar koleksi uang KR asli yang masih terawat dengan baik.

Kode watermark SKR dan detail cetakan tahun 1964 masih terlihat jelas pada fisik uang kertas tersebut.

​Bagi traveler yang ingin merasakan sensasi memegang “uang ajaib” bersejarah ini sekaligus mempelajari perjalanan panjang mata uang di Nusantara, Museum Linggam Cahaya di Daik Lingga menjadi destinasi edukasi budaya yang sangat direkomendasikan. (Iman Suryanto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *