“Sejumlah ibu-ibu dan anak-anak ikut terkena lemparan. Itu yang membuat suporter semakin emosi,” tambah Riama.
Aparat keamanan bersama panitia bergerak cepat untuk mengendalikan kerumunan. Wali Kota Batam Amsakar Achmad yang hadir bersama istri langsung dievakuasi ke lokasi yang lebih aman demi menghindari risiko yang lebih besar.
Insiden ini memicu kritik terhadap penyelenggaraan turnamen. Banyak pihak menilai ajang sekelas Piala Wali Kota seharusnya disiapkan dengan standar keamanan dan fasilitas yang lebih baik.
Tony, pencinta olahraga voli yang ditemui di lokasi, menilai panitia kurang mengantisipasi potensi keramaian suporter kedua tim.
“Panitia tidak melihat situasi. Sudah tahu suporter PGRI dan BP Batam sama-sama banyak, tapi venue tetap dipakai. Padahal tidak standar, penerangan juga kurang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti gangguan teknis selama pertandingan, termasuk insiden mati lampu yang disebut tidak diantisipasi dengan ketersediaan genset.
“Ketika mati lampu, panitia tidak siapkan genset. Bahkan katanya kalau lampu tidak hidup empat jam, pertandingan diulang besok dari 0-0. Tim BP Batam sudah beberapa kali dirugikan seperti itu,” katanya.









