Ketika Modal Menjadi Pemilih (2-Habis)

Lukita Dinarsyah Tuwo
Lukita Dinarsyah Tuwo

Apa Arti Pergeseran Ekonomi Global bagi Investor Besar, Menengah, dan Kecil di Indonesia

OPINI OLEH : Lukita Dinarsyah Tuwo

Tulisan pertama dalam seri ini membahas bagaimana dunia mulai menggeser brankasnya.

Bacaan Lainnya

Sebagian dana mencari jalan pulang. Sebagian berpindah ke emas. Sebagian meminta bunga yang lebih tinggi. Sebagian lagi memilih menunggu.

Tulisan kedua ini membahas pertanyaan yang lebih dekat dengan kepentingan Indonesia: apa arti semua perubahan tersebut bagi orang yang ingin menanamkan uangnya di Indonesia?

Jawaban singkatnya: Indonesia masih menarik, tetapi tidak lagi dapat mengandalkan daya tarik lama.

Pasar yang besar masih penting. Sumber daya alam masih berharga. Pertumbuhan ekonomi masih menjadi modal. Ekonomi Indonesia bahkan tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026, lebih tinggi daripada perkiraan pasar. Namun, pertumbuhan tersebut berlangsung ketika investor juga mencermati tekanan rupiah, biaya energi, kondisi fiskal, transparansi pasar, dan kredibilitas kebijakan.

Dunia tidak sedang kehabisan uang.

Dunia sedang menjadi lebih pemilih.

Modal Tidak Pergi. Modal Meminta Harga yang Lebih Mahal

Dalam teori investasi, keputusan tidak hanya ditentukan oleh besarnya keuntungan, tetapi oleh keuntungan setelah memperhitungkan risiko atau risk-adjusted return.

Jika risiko meningkat, investor akan meminta tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Ketika yield obligasi Amerika meningkat, investor global memperoleh alternatif yang lebih menarik tanpa harus masuk ke negara berkembang. Agar tetap kompetitif, aset Indonesia harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi atau risiko yang lebih rendah.

Di sinilah persoalannya.

Indonesia dapat menaikkan imbal hasil. Namun, bunga yang lebih tinggi berarti biaya pembiayaan pemerintah dan dunia usaha ikut meningkat.

Indonesia juga dapat menurunkan risiko. Tetapi hal itu membutuhkan kepastian regulasi, disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, transparansi pasar, dan konsistensi kebijakan.

Yang pertama dapat dilakukan dengan menaikkan harga uang.

Yang kedua hanya dapat dilakukan dengan memperbaiki kualitas negara.

Investor sekarang tidak hanya bertanya, “berapa keuntungannya?”

Mereka juga bertanya, “berapa lama peraturannya akan bertahan, siapa yang bertanggung jawab jika proyek terhambat, dan bagaimana saya mengeluarkan modal jika keadaan berubah?”

Investor Besar: Bukan Takut Risiko, tetapi Takut Risiko yang Tidak Dapat Dihitung

Investor besar, seperti perusahaan multinasional, sovereign wealth fund, dana pensiun, perusahaan energi, dan investor infrastruktur, biasanya tidak menghindari risiko sepenuhnya.

BACA JUGA:  Pemprov Kepri Salurkan 40 Ribu Bibit Cabai untuk Rumah Tangga Masyarakat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *