Kepri juga berbatasan langsung dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Selain itu, wilayah Kepri berada di kawasan Selat Malaka yang merupakan salah satu choke point dunia serta berada pada jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.
Di sisi lain, posisi strategis tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan keamanan. Mulai dari penyelundupan barang ilegal, perdagangan orang, penyelundupan narkotika, kejahatan lintas negara, penyelundupan bahan bakar, tenaga kerja nonprosedural, hingga ancaman keamanan siber dan potensi konflik akibat dinamika geopolitik kawasan.
Karena itu, Nyanyang menilai pembentukan Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi sangat penting dalam memperkuat sistem pertahanan dan keamanan di wilayah Kepri.
“Kehadiran Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi sangat krusial sebagai institusi yang memiliki mandat dalam menyelenggarakan pertahanan negara melalui penguatan pertahanan kewilayahan, pembinaan teritorial, serta peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai potensi ancaman,” jelasnya.
Nyanyang mengatakan, terbentuknya Kodam XXV juga menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, sinergi tersebut diperlukan untuk menciptakan situasi keamanan yang kondusif sehingga aktivitas pemerintahan, investasi, perdagangan serta pembangunan sektor maritim di Kepri dapat berjalan secara berkelanjutan.











