UWTO hingga Ex-Officio Disorot, KALAM: Masa Depan Investasi Batam Dipertanyakan

Secara historis, Batam dibangun sebagai kawasan industri dan perdagangan bebas untuk menarik investasi asing, membuka lapangan kerja, serta menjadi pintu gerbang ekonomi Indonesia di Selat Malaka.

Namun para tokoh menilai, jika ketidaksinkronan kebijakan terus berlanjut, Batam berisiko kehilangan daya saing dibanding kawasan industri regional lain seperti Johor dan Singapura.

Beberapa dampak ekonomi yang dikhawatirkan antara lain, Ketidakpastian investasi akibat regulasi tumpang tindih; Beban biaya lahan yang menekan sektor UMKM dan industri ; Penurunan daya tarik kawasan sebagai hub manufaktur dan logistik; serta Potensi ketimpangan kesejahteraan masyarakat lokal..

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Kepala BP Batam Amsakar: Regulasi PP 25 dan 28 Tidak Bertentangan, Pelayanan Perizinan Tetap Optimal

KALAM disebut akan segera menggelar forum lanjutan untuk merumuskan langkah konkret. Tim perumus telah disiapkan, menandakan bahwa gerakan ini mulai bertransformasi dari diskusi menjadi gerakan advokasi kebijakan.

Pertanyaan besar kini menggantung: apakah Batam masih dibangun untuk kesejahteraan warganya, atau mulai bergeser menjadi sekadar mesin ekonomi tanpa arah sosial?

Dari meja buka puasa, diskursus ekonomi Batam kini memasuki babak baru—sebuah upaya meluruskan kembali arah pembangunan kota industri strategis Indonesia. (***)

Sumber: BatamNow

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *