Syafrida Rasahan Soroti Akar Masalah Pilkada. ‘Calon Tunggal, Dinasti Politik hingga Regulasi yang Membingungkan Publik’

“Ada calon ‘boneka’ yang disiapkan hanya untuk memberikan legitimasi pada satu kandidat yang memang sudah disiapkan sejak awal oleh pemilik modal,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena itu bukan hanya mencederai demokrasi, tetapi juga berpotensi menghasilkan pemimpin yang tidak memiliki integritas dan kompetensi.

Syafrida bahkan menghubungkan dampak buruk Pilkada dengan bencana yang melanda beberapa daerah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bacaan Lainnya
BACA JUGA:  Batam Menuju Episentrum Baru: Roadmap 25 Tahun Pembangunan Kota

“Ketika kepala daerah terpilih karena uang, bukan kapabilitas, maka kebijakan tata ruang, izin, dan pengelolaan lingkungan menjadi longgar. Akibatnya masyarakat yang menanggung penderitaan,” tambahnya.

Penyelenggara Pemilu Masih Sarat Kepentingan

Syafrida kemudian menyinggung persoalan di tubuh penyelenggara pemilu, khususnya proses rekrutmen yang dianggap tidak bebas dari intervensi politik. Ia menyebut laporan ke DKPP tahun 2023–2024 terkait rekrutmen penyelenggara pemilu meningkat signifikan.

“Banyak penyelenggara pemilu bukan dipilih karena mampu atau mau bekerja, tetapi karena dipaksakan oleh pihak tertentu. Ini persoalan kapabilitas yang berdampak pada lemahnya penindakan manipulasi pemilu,” jelasnya.

Menurutnya, jika bukti dan saksi sudah ada, seharusnya semua kasus manipulasi bisa diproses hukum karena memiliki hukum acara khusus. Namun kenyataannya, banyak kasus akhirnya menguap.

BACA JUGA:  Rakor Bersama KPK, Hendra Asman Harap Pelayanan untuk Masyarakat Tanpa Gratifikasi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *